Laman

Sabtu, 12 September 2015

Cerpen


MAAF AKU MENYAYANGIMU

Kring… kring…kring…

Dengan kecepatan Zahra menyambar ransel sekolahnya, karena di bawah sudah ada zafran menunggunya. Pesahabatan mereka dari bangku SD sampai SMA ini membuat mereka saling mengerti. Zafran seorang cowok yang g sabaran kalo disuruh nungguin Zahra. Zahra sendiri seorang cewek feminim pada umumnya, kalo sudah di depan cermin pasti butuh waktu yg lama., ada saja yang tidak berkenan pada wajah dan rambutnya. Tetapi remaja cewek ini semenjak masuk SMA favorit di Jakarta. Ia memutuskan untuk memakai hijab. Baginya keputusan untuk berhijab adalah niatnya sejak masih di bangku SMP. Dan ia harus menerima segala konsekuensinya.

“Rara, kenapa sich lama banget keluarnya, sampe jamur ni akunya,”protes zafran kepada rara, panggilan kepada Zahra.

“Maaf, Ran. Ah masa sich sampe jamur, aku litany masih manis aja tuh”, usik Zahra.

“Hmmm…udah ah, pagi-pagi udh modus. Cepetan naik g, kalo g aku tinggal nie,” ancam Zafran dengan senyum manisnya.

“Hahaha…iya, Ran. Btw makasih ya udh mau nungguin aku lagi.”

“Iya…tiap hari juga selalu di tungguin kan.”sahut Zafran dengan penuh kesabaranny.

Ia harus sabar menghadapi Zahra yg cerewet ini. Karena mereka sahabat lama, jadi saling paham keburukan dan kebaikan mereka. Karena kesabaran Zafran mereka selalu berangkat dan pulang sekolah sama-sama. Rumah mereka tidak begitu jauh, bahkan mereka setiap hari belajar bersama. Orang tua keduanya pun saling memahami anaknya. Meski begitu orang tua merekapun jadi kenal dekat, bahkan sudah seperti saudara sendiri.

Sesampainya di sekolah, mereka langsung menuju kelas. Kebetulan kelas mereka sama, jadi memudahkan mereka untuk bekerja sama dalam kelulusan SMA tahun ini. Zafran yg memiliki cita-cita ingin mendapat beasiswa kuliah di London, sedangkan Zahra ingin kuliah di Australia. Keduanya adalah siswa cerdas di SMA Negeri 1 Bakti Husada. Selain Zafran sahabat dari SD, Zahra juga memiliki sahabat dari bangku SMP. Mereka adalah Maryam dan Hafiza. Ketiga, remaja cewek ini sama-sama memakai hijab, dan mereka sekelas. Maryam yg memiliki kepribadian hamper sama seperti Zahra, sedangkan Hafiza adalah seorang yg sangat pendiam dan peduli.

“Ran, hari ini ulangan fisika ya?” Tanya Zahra.

“Iya, ra. Emang kenapa ?” Tanya Zafran balik.

“Gapapa kok. Mau ngulangin belajar lagi ni.” Jawab Zahra.

“Ooo…gitu.. ya udah kita sama-sama ngulang aja.”

Tiba-tiba keasikan mereka di kelas dikejutkan oleh sofyan sang ketua kelas.

“Selamat pagi, guys… hari ini kita kedatangan murid baru dari Bandung, dan dia akan masuk kelas ini.”

Anak-anak di kelas itu pun saling berbisik-bisik. Tiba-tiba ada suara dari pojok ruangan.

“Cewek apa cowok bro?” Tanya rudi, sang playboy di sekolah itu.

“Kayaknya sich cewek, bro. cantik n pinter kok”, jawab Sofyan.

“Wah…kebetulan bangetz, gue lagi jomblo nih.”

“Wooooo….”, sorak teman-teman sekelasnya.

“Rudi…rudi…mana mungkin loe jomblo, kalo loe jomblo sekolah ini bakalan turun salju,bro.” kata Hasyim, wakil ketua kelas mereka.

“Hahhahahha” tawa mereka sekelas.

Tettt..teettt…teetttt…

Tanda bel masuk kelas. Dengan penyesalannya Zahra memanyunkan bibirnya.

“Rara,, kamu kenapa manyun gitu ?” Tanya Zafran.

“Gag jadi belajarnya, Ran. Fisika kan jam pertama, bentar lagi bu Sofia pasti masuk.”

“Ya udah gapapa. Semalem kan kita udah belajar, ra.” Zafran coba menenangkan Zahra.

“Iya…ni Zahra.. udah tenang aja… berdo’a gitu moga-moga g jadi ulangan.” Maryam menambahi.

“Betul itu kata Maryam, Ra” balas Hafiza.

“Moga juga gitu”. Jawab Zahra singkat.

Akhirnya bu Sofia masuk ke kelas IPA 2, kelas Zahra. Tapi kali ini bu Sofia sekaligus wali kelas mereka tidak sendirian. Beliau berjalan beriringan dengan seorang cewek yg modis, cantik dan keliatan pinter.

“Selamat pagi, anak-anak. Ibu akan memperkenalkan teman baru untuk kalian. Defarina tolong kenalkan diri kamu ke teman-teman.”

“Iya, bu.” Jawab defa patuh.

“Assalamulaikum… selamat pagi, perkenalkan nama saya Defarina Agustine, bisa dipanggil defa, berasal dari Bandung, dan semoga teman-teman mau menerima saya sebagai teman disini.”

“Okey…defa, kamu duduk di bangku belakang Zahra, ya.”

“Baik, bu.”

Defa menuju kebangku yang di maksud bu Sofia yaitu di belakang bangku Zahra dan Zafran. mereka berdualah yang paling awal berkenalan dengan defa.

“Anak-anak, maaf, hari ini g jadi ulangan ya. Karena ada Defa. Ulangannya minggu depan ya.”

“Baik, bu…” jawab mereka serentak. Sebagian siswa tersenyum lebar, karena ulangan Fisika di tunda.

“Zahra dan Zafran, ibu mohon kalian bisa membantu defa ya, karena kan ini sudah kelas 3. Yang lain jangan lupa belajar untuk persiapan UN, ya…”

Keduanya, tersenyum dengan ikhlas dan mengangguk setuju untuk membantu defa.

Pada saat jam istirahat Zafran, Zahra, Maryam, Hafiza dan Defa menuju kantin dan mereka memilih untuk duduk dipojok kantin itu, tujuannya adalah menghindar dari hingar bingar siswa-siswa berlalu lalang. Juga untuk membuat rencana belajar kelompok.

Dalam waktu singkat Defa sudah akrab dengan mereka. Dan ia akan belajar bareng teman barunya.

 

Setiap 3 kali dalam seminggu kelima sahabat itu akan berkumpul disalah satu rumah meraka. Dan yang paling sering di rumah Zafran dan Zahra. Sudah 3 bulan kelimanya belajar bersama-sama.

Tanpa mereka disadari Zafran memendam rasa terhadap Defa. Dan perubahan itu disadari oleh Zafran ketika keduanya terjebak hujan waktu di toko buku. Dimana pada waktu itu Zahra sedang demam, Maryam dan Hafiza menghadiri pengajian di gedung olahraga di daerah Senayan. Jadi, Zafran mengajak Defa, dengan mengendarai motornya Zafran kerumah Defa. Sesamapinya di ruamah Defa. Defa sudah bersiap untuk pergi membeli buku kumpulan soal latihan UN bersama Zafran.

“Udah siap, fa?”

“Udah kok, Zaf…langsung aja sebelum ujan turun nih.”

“Oke..,pakai helmnya, fa.”

Akhirnya mereka smpai d toko buku itu…sejam kemudian hujan turun dengan derasnya.

“Duh…gimana nih mau pulang ujan, Zaf.”

“Ya udah kita tunggu ujanny reda aja ya, Fa.”

“He’em…”, jawab defa singkat karena menahan dingin.

“Ya ampun, fa. Kenapa kamu pucet gini?”

“Ba…dan..k.u…di..ngin..Zaf.” jawab defa dengan terbata-bata menahan dingin

“Ya,,,udah pakai jaketku aja , fa…” sambil melepas jaket dan memakaikan ke bahu Defa.

Sejak saat itulah Zafran memiliki rasa yg aneh terhadap cewek. Dengan Zahra dia biasa aja. Tidak seaneh ini.

“Apa iya, aku jatuh cinta ama defa” batin Zafran ketika menunggu Zahra di parkiran.

“Hayoooo…lagi nglamun ya, Ran.” Zahra menyadarkan lamunannya

“Ra, aku pengen cerita ama kamu dech.”

“Cerita apa, Ran?”

“Jangan di sini. Kita ke taman kota aja yuk,,, nanti aku teraktir makan bakso. Tapi pulang dulu ya, ra”

“Iya… Ran. Mau minta izin bunda dulu… ama mama juga ya.” Mama panggilan untuk ibu Zafran seperti panggilan Zafran ke ibunya, sedang Bunda panggilan untuk ibunya.

Dengan bersepeda dua remaja itu menuju rumah…

                                “Setengah jam lagi aku jemput kamu. Jangan lama-lama

                                 Dandannya. Nanti aku g jadi nraktir makan baksonya.”

Zafran mengirim pesan lewat WA ke Zahra.

Zahra hanya tersenyum membaca pesan itu.

Dengan baju warna tosca, jilbab pink, dan rok abu-abu. Ia keluar rumah. Di depan sudah ada mobil putih milik papa Zafran. “pasti papa, udh pulang nih. Bisa pakai mobil tuh..”

“Lama banget sich dandannya.” Protes Zafran sambil nyubit pipi chubby Zahra.

“Auuu….maaf, Ran…ampun Ran…sakit nih…lepasin g kalo g aku teriak nih.”

“Teriak aja kalo berani.”

Dan benar saja Zahra teriak manggil mama Zafran…

“Mama….Zafran nakal lagi”

Dengan tergesa-gesa mama Zafran keluar rumah melihat apa yg terjadi.

“Astaghfirullah…kalian udh gede gini juga masih kayak anak kecil aja,,,udah ah cepetan pergi nnti papa mau pakai mobilnya, Ran…” omel mamanya.

“Iya,,ma,,,,Rara lama bangetz dandannya.”

Akhirnya mereka on the way juga. Sesampainya di taman kota. Mereka langsung makan bakso.

“Udah dong ngambeknya, Ra…” rayu Zafran.

“Lagian jahat ama aku sih.”

“Udah dong, aku kan mau cerita ama kamu.”

“Ooo…iya…mau cerita apa Ran.” Wajah Zahra berubah ceria, g sabar dengar cerita Zafran.

“Gini Ra, kayaknya aku lagi jatuh cinta ni.”

“Hah…ama siapa Ran?” memasang muka kaget.

“Yeee,..biasa aja muka kamu Ra…ama Defa.”

“Yang bener Ran…Wah senengnya kamu jatuh cinta, tapi kok ama Defa sich,, emg dia g punya cowok apa ?”

“Itulah Ra,,,aku g tau…kalo udh punya gimana Ra?”

“Ya..kamu harus menerima kenyataan.. kalo g gitu besuk kamu ngomong ama dia ya,,,”

“Iya deh…ntar aku coba.”

Dan pada waktu yg sama ditaman kota juga. Ada sepasang kekasih sedang bermain dengan tawa bahagianya.

“Eh…Ran itu kayaknya ada Defa deh…”

“Iya bener Ra,,, tapi kok kayaknya mereka bahagia banget ya,,,”

“He,em nih…samperin yuk… biar kita tau dia ama siapa.”

“Tapi….Ra…aku gerogi lagi lah.”

“Udah gapapa, ntar aku yang nanya ke dia”

“Tapi kamu jgn bilang dulu ama dia, kalo aku suka ama dia.”

Tanpa menjawab permintaan Zafran. ia langsung menyeret Zafran nyamperin Defa..

“Hay,,,Defa…” sapa Zahra.

“Eh…kalian kok di sini juga sich…”

“Iya nih…kita lagi jalan-jalan sore aja…kamu sama siapa, Fa?” Tanya Zahra.

“ooo..iya..kenalin ini pacarku…dulu sebelum ortu pindah Jakarta, kita LDR,an sekarang udh enggak.” Jawab Defa dengan wajah bahagia mengenalkan pacarnya ke mereka.

Dengan mata terbelalak dan hati yg hancur Zafran menyambut tangan Anggi, pacar Defa.

“Anggi Prayoga, panggil Anggi aja.”

“Muhammad Zafran, panggil Zafran.”

“Humairoh Az-Zahra, panggil Zahra.”

Setelah berkenalan dan berbasa-basi sebentar. Zafran ngajak Zahra pulang alasannya mobil mau di pakai papanya. Pada saat sudah di mobil, dengan muka galaunya, ia menyalakan mobil dan menuju rumah. Sepanjang perjalanan, mereka hnya membisu.

 

Pengumuman kelulusan SMA sudah pun di ketahui hasilnya. Kelima sahabat ini lulus dengan nilai yg cukup membanggakan sekolah. Zafran sudah menjalani test-test untuk kuliah di London dan hasilnya diterima. Dan sama dengan Zahra sudah diterima di salah satu universitas Australia. Itu artinya mereka akan berpisah selama 4tahun. Dan sebelum itu Zafran sudah melupakan perasaannya kepada Defa. Tetapi tidak untuk Zahra, ia harus mengatakan apa yg dirasakan selama akhir-akhir ini.

“Ran, aku pngen ngomong ma kamu.”

“Ooo…sini duduk Ra,”

“Kamu seminggu lagi ke London Ran?”

“Iya…kenapa?”

“Sebelum kamu pergi n kita berpisah di berbeda Negara. Aku pengen kamu tau sesuatu,Ran.”

“Apa itu, Ra?”

“Sebenernya akhir-akhir ini aku merasakan sesuatu yang lain sama kamu, berbeda dengan persahabatan yg kita jalani selama ini, aku menyayangimu lebih dari sahabat. Aku harap kamu g marah. N persahabatan kita g akan berakhir.” Jelasny dengan wajah tertunduk.

Zafran mencoba memegang dagu dan mengangkat wajah itu, mencoba mencari kejujuran di mata indah Zahra.

“Ra, kita akan berpisah selama 4tahun. Aku ngerti perasaan kamu, kamu g salah kok, Cuma untuk 4tahun kedepan gunakan waktu untuk kelulusan kita dan meraih cita-cita kita. Kita akan bertemu dengan kesuksesan untuk orang-orang tercinta kita. Disitu lah aku akan mengatakan yang sebenarnya. Tapi persahabatan kita akan sama kok, Cuma bedanya kita g bsa ketemu terus, kita pakai medsos ya…” Zafran mencoba mengerti sahabatnya itu.

“Iya, Ran…aku janji akan lulus 4tahun lagi. Tapi, kamu gag marah kn ?”

“Ya…enggak lah. Malah g nyangka kamu jatuh cinta ama aku. Aku pikir aku bukan cowok yg kamu pilih gitu.”

“Maaf Ran. Maaf aku menyayangimu lebih dari sahabat.”

“ssttt…..g ada yang salah kok… percaya aja kalo jodoh gag akan kemana kok.”

“He,em…”angguknya mencoba untuk menunjukkan wajah cerianya.

 

Tidak ada komentar: