MAAF AKU
MENYAYANGIMU
Kring…
kring…kring…
Dengan kecepatan
Zahra menyambar ransel sekolahnya, karena di bawah sudah ada zafran
menunggunya. Pesahabatan mereka dari bangku SD sampai SMA ini membuat mereka
saling mengerti. Zafran seorang cowok yang g sabaran kalo disuruh nungguin
Zahra. Zahra sendiri seorang cewek feminim pada umumnya, kalo sudah di depan
cermin pasti butuh waktu yg lama., ada saja yang tidak berkenan pada wajah dan
rambutnya. Tetapi remaja cewek ini semenjak masuk SMA favorit di Jakarta. Ia
memutuskan untuk memakai hijab. Baginya keputusan untuk berhijab adalah niatnya
sejak masih di bangku SMP. Dan ia harus menerima segala konsekuensinya.
“Rara, kenapa
sich lama banget keluarnya, sampe jamur ni akunya,”protes zafran kepada rara,
panggilan kepada Zahra.
“Maaf, Ran. Ah
masa sich sampe jamur, aku litany masih manis aja tuh”, usik Zahra.
“Hmmm…udah ah,
pagi-pagi udh modus. Cepetan naik g, kalo g aku tinggal nie,” ancam Zafran
dengan senyum manisnya.
“Hahaha…iya,
Ran. Btw makasih ya udh mau nungguin aku lagi.”
“Iya…tiap hari
juga selalu di tungguin kan.”sahut Zafran dengan penuh kesabaranny.
Ia harus sabar
menghadapi Zahra yg cerewet ini. Karena mereka sahabat lama, jadi saling paham
keburukan dan kebaikan mereka. Karena kesabaran Zafran mereka selalu berangkat
dan pulang sekolah sama-sama. Rumah mereka tidak begitu jauh, bahkan mereka
setiap hari belajar bersama. Orang tua keduanya pun saling memahami anaknya.
Meski begitu orang tua merekapun jadi kenal dekat, bahkan sudah seperti saudara
sendiri.
Sesampainya di sekolah, mereka
langsung menuju kelas. Kebetulan kelas mereka sama, jadi memudahkan mereka
untuk bekerja sama dalam kelulusan SMA tahun ini. Zafran yg memiliki cita-cita
ingin mendapat beasiswa kuliah di London, sedangkan Zahra ingin kuliah di
Australia. Keduanya adalah siswa cerdas di SMA Negeri 1 Bakti Husada. Selain
Zafran sahabat dari SD, Zahra juga memiliki sahabat dari bangku SMP. Mereka
adalah Maryam dan Hafiza. Ketiga, remaja cewek ini sama-sama memakai hijab, dan
mereka sekelas. Maryam yg memiliki kepribadian hamper sama seperti Zahra,
sedangkan Hafiza adalah seorang yg sangat pendiam dan peduli.
“Ran, hari ini
ulangan fisika ya?” Tanya Zahra.
“Iya, ra. Emang
kenapa ?” Tanya Zafran balik.
“Gapapa kok. Mau
ngulangin belajar lagi ni.” Jawab Zahra.
“Ooo…gitu.. ya
udah kita sama-sama ngulang aja.”
Tiba-tiba
keasikan mereka di kelas dikejutkan oleh sofyan sang ketua kelas.
“Selamat pagi,
guys… hari ini kita kedatangan murid baru dari Bandung, dan dia akan masuk
kelas ini.”
Anak-anak di kelas itu pun saling
berbisik-bisik. Tiba-tiba ada suara dari pojok ruangan.
“Cewek apa cowok
bro?” Tanya rudi, sang playboy di sekolah itu.
“Kayaknya sich
cewek, bro. cantik n pinter kok”, jawab Sofyan.
“Wah…kebetulan
bangetz, gue lagi jomblo nih.”
“Wooooo….”,
sorak teman-teman sekelasnya.
“Rudi…rudi…mana
mungkin loe jomblo, kalo loe jomblo sekolah ini bakalan turun salju,bro.” kata
Hasyim, wakil ketua kelas mereka.
“Hahhahahha”
tawa mereka sekelas.
Tettt..teettt…teetttt…
Tanda bel masuk kelas. Dengan
penyesalannya Zahra memanyunkan bibirnya.
“Rara,, kamu
kenapa manyun gitu ?” Tanya Zafran.
“Gag jadi
belajarnya, Ran. Fisika kan jam pertama, bentar lagi bu Sofia pasti masuk.”
“Ya udah gapapa.
Semalem kan kita udah belajar, ra.” Zafran coba menenangkan Zahra.
“Iya…ni Zahra..
udah tenang aja… berdo’a gitu moga-moga g jadi ulangan.” Maryam menambahi.
“Betul itu kata
Maryam, Ra” balas Hafiza.
“Moga juga
gitu”. Jawab Zahra singkat.
Akhirnya bu
Sofia masuk ke kelas IPA 2, kelas Zahra. Tapi kali ini bu Sofia sekaligus wali
kelas mereka tidak sendirian. Beliau berjalan beriringan dengan seorang cewek
yg modis, cantik dan keliatan pinter.
“Selamat pagi,
anak-anak. Ibu akan memperkenalkan teman baru untuk kalian. Defarina tolong
kenalkan diri kamu ke teman-teman.”
“Iya, bu.” Jawab
defa patuh.
“Assalamulaikum…
selamat pagi, perkenalkan nama saya Defarina Agustine, bisa dipanggil defa,
berasal dari Bandung, dan semoga teman-teman mau menerima saya sebagai teman
disini.”
“Okey…defa, kamu
duduk di bangku belakang Zahra, ya.”
“Baik, bu.”
Defa menuju
kebangku yang di maksud bu Sofia yaitu di belakang bangku Zahra dan Zafran.
mereka berdualah yang paling awal berkenalan dengan defa.
“Anak-anak,
maaf, hari ini g jadi ulangan ya. Karena ada Defa. Ulangannya minggu depan ya.”
“Baik, bu…”
jawab mereka serentak. Sebagian siswa tersenyum lebar, karena ulangan Fisika di
tunda.
“Zahra dan
Zafran, ibu mohon kalian bisa membantu defa ya, karena kan ini sudah kelas 3.
Yang lain jangan lupa belajar untuk persiapan UN, ya…”
Keduanya,
tersenyum dengan ikhlas dan mengangguk setuju untuk membantu defa.
Pada saat jam istirahat Zafran,
Zahra, Maryam, Hafiza dan Defa menuju kantin dan mereka memilih untuk duduk
dipojok kantin itu, tujuannya adalah menghindar dari hingar bingar siswa-siswa
berlalu lalang. Juga untuk membuat rencana belajar kelompok.
Dalam waktu singkat Defa sudah
akrab dengan mereka. Dan ia akan belajar bareng teman barunya.
Setiap 3 kali
dalam seminggu kelima sahabat itu akan berkumpul disalah satu rumah meraka. Dan
yang paling sering di rumah Zafran dan Zahra. Sudah 3 bulan kelimanya belajar
bersama-sama.
Tanpa mereka disadari Zafran
memendam rasa terhadap Defa. Dan perubahan itu disadari oleh Zafran ketika
keduanya terjebak hujan waktu di toko buku. Dimana pada waktu itu Zahra sedang
demam, Maryam dan Hafiza menghadiri pengajian di gedung olahraga di daerah
Senayan. Jadi, Zafran mengajak Defa, dengan mengendarai motornya Zafran kerumah
Defa. Sesamapinya di ruamah Defa. Defa sudah bersiap untuk pergi membeli buku
kumpulan soal latihan UN bersama Zafran.
“Udah siap, fa?”
“Udah kok,
Zaf…langsung aja sebelum ujan turun nih.”
“Oke..,pakai
helmnya, fa.”
Akhirnya mereka smpai d toko buku
itu…sejam kemudian hujan turun dengan derasnya.
“Duh…gimana nih
mau pulang ujan, Zaf.”
“Ya udah kita
tunggu ujanny reda aja ya, Fa.”
“He’em…”, jawab
defa singkat karena menahan dingin.
“Ya ampun, fa.
Kenapa kamu pucet gini?”
“Ba…dan..k.u…di..ngin..Zaf.”
jawab defa dengan terbata-bata menahan dingin
“Ya,,,udah pakai
jaketku aja , fa…” sambil melepas jaket dan memakaikan ke bahu Defa.
Sejak saat itulah
Zafran memiliki rasa yg aneh terhadap cewek. Dengan Zahra dia biasa aja. Tidak
seaneh ini.
“Apa iya, aku
jatuh cinta ama defa” batin Zafran ketika menunggu Zahra di parkiran.
“Hayoooo…lagi
nglamun ya, Ran.” Zahra menyadarkan lamunannya
“Ra, aku pengen
cerita ama kamu dech.”
“Cerita apa,
Ran?”
“Jangan di sini.
Kita ke taman kota aja yuk,,, nanti aku teraktir makan bakso. Tapi pulang dulu
ya, ra”
“Iya… Ran. Mau
minta izin bunda dulu… ama mama juga ya.” Mama panggilan untuk ibu Zafran
seperti panggilan Zafran ke ibunya, sedang Bunda panggilan untuk ibunya.
Dengan bersepeda dua remaja itu
menuju rumah…
“Setengah jam lagi aku jemput kamu. Jangan
lama-lama
Dandannya. Nanti aku g jadi nraktir makan
baksonya.”
Zafran mengirim pesan lewat WA ke
Zahra.
Zahra hanya tersenyum membaca
pesan itu.
Dengan baju warna tosca, jilbab
pink, dan rok abu-abu. Ia keluar rumah. Di depan sudah ada mobil putih milik
papa Zafran. “pasti papa, udh pulang nih. Bisa pakai mobil tuh..”
“Lama banget
sich dandannya.” Protes Zafran sambil nyubit pipi chubby Zahra.
“Auuu….maaf,
Ran…ampun Ran…sakit nih…lepasin g kalo g aku teriak nih.”
“Teriak aja kalo
berani.”
Dan benar saja Zahra teriak
manggil mama Zafran…
“Mama….Zafran
nakal lagi”
Dengan tergesa-gesa mama Zafran
keluar rumah melihat apa yg terjadi.
“Astaghfirullah…kalian
udh gede gini juga masih kayak anak kecil aja,,,udah ah cepetan pergi nnti papa
mau pakai mobilnya, Ran…” omel mamanya.
“Iya,,ma,,,,Rara
lama bangetz dandannya.”
Akhirnya mereka on the way juga. Sesampainya
di taman kota. Mereka langsung makan bakso.
“Udah dong
ngambeknya, Ra…” rayu Zafran.
“Lagian jahat
ama aku sih.”
“Udah dong, aku
kan mau cerita ama kamu.”
“Ooo…iya…mau
cerita apa Ran.” Wajah Zahra berubah ceria, g sabar dengar cerita Zafran.
“Gini Ra,
kayaknya aku lagi jatuh cinta ni.”
“Hah…ama siapa
Ran?” memasang muka kaget.
“Yeee,..biasa
aja muka kamu Ra…ama Defa.”
“Yang bener
Ran…Wah senengnya kamu jatuh cinta, tapi kok ama Defa sich,, emg dia g punya
cowok apa ?”
“Itulah Ra,,,aku
g tau…kalo udh punya gimana Ra?”
“Ya..kamu harus
menerima kenyataan.. kalo g gitu besuk kamu ngomong ama dia ya,,,”
“Iya deh…ntar
aku coba.”
Dan pada waktu yg sama ditaman
kota juga. Ada sepasang kekasih sedang bermain dengan tawa bahagianya.
“Eh…Ran itu
kayaknya ada Defa deh…”
“Iya bener Ra,,,
tapi kok kayaknya mereka bahagia banget ya,,,”
“He,em
nih…samperin yuk… biar kita tau dia ama siapa.”
“Tapi….Ra…aku
gerogi lagi lah.”
“Udah gapapa,
ntar aku yang nanya ke dia”
“Tapi kamu jgn
bilang dulu ama dia, kalo aku suka ama dia.”
Tanpa menjawab permintaan Zafran.
ia langsung menyeret Zafran nyamperin Defa..
“Hay,,,Defa…”
sapa Zahra.
“Eh…kalian kok
di sini juga sich…”
“Iya nih…kita
lagi jalan-jalan sore aja…kamu sama siapa, Fa?” Tanya Zahra.
“ooo..iya..kenalin
ini pacarku…dulu sebelum ortu pindah Jakarta, kita LDR,an sekarang udh enggak.”
Jawab Defa dengan wajah bahagia mengenalkan pacarnya ke mereka.
Dengan mata terbelalak dan hati
yg hancur Zafran menyambut tangan Anggi, pacar Defa.
“Anggi Prayoga,
panggil Anggi aja.”
“Muhammad
Zafran, panggil Zafran.”
“Humairoh
Az-Zahra, panggil Zahra.”
Setelah berkenalan dan
berbasa-basi sebentar. Zafran ngajak Zahra pulang alasannya mobil mau di pakai
papanya. Pada saat sudah di mobil, dengan muka galaunya, ia menyalakan mobil
dan menuju rumah. Sepanjang perjalanan, mereka hnya membisu.
Pengumuman
kelulusan SMA sudah pun di ketahui hasilnya. Kelima sahabat ini lulus dengan
nilai yg cukup membanggakan sekolah. Zafran sudah menjalani test-test untuk
kuliah di London dan hasilnya diterima. Dan sama dengan Zahra sudah diterima di
salah satu universitas Australia. Itu artinya mereka akan berpisah selama
4tahun. Dan sebelum itu Zafran sudah melupakan perasaannya kepada Defa. Tetapi
tidak untuk Zahra, ia harus mengatakan apa yg dirasakan selama akhir-akhir ini.
“Ran, aku pngen
ngomong ma kamu.”
“Ooo…sini duduk
Ra,”
“Kamu seminggu
lagi ke London Ran?”
“Iya…kenapa?”
“Sebelum kamu
pergi n kita berpisah di berbeda Negara. Aku pengen kamu tau sesuatu,Ran.”
“Apa itu, Ra?”
“Sebenernya
akhir-akhir ini aku merasakan sesuatu yang lain sama kamu, berbeda dengan
persahabatan yg kita jalani selama ini, aku menyayangimu lebih dari sahabat.
Aku harap kamu g marah. N persahabatan kita g akan berakhir.” Jelasny dengan
wajah tertunduk.
Zafran mencoba memegang dagu dan
mengangkat wajah itu, mencoba mencari kejujuran di mata indah Zahra.
“Ra, kita akan
berpisah selama 4tahun. Aku ngerti perasaan kamu, kamu g salah kok, Cuma untuk
4tahun kedepan gunakan waktu untuk kelulusan kita dan meraih cita-cita kita.
Kita akan bertemu dengan kesuksesan untuk orang-orang tercinta kita. Disitu lah
aku akan mengatakan yang sebenarnya. Tapi persahabatan kita akan sama kok, Cuma
bedanya kita g bsa ketemu terus, kita pakai medsos ya…” Zafran mencoba mengerti
sahabatnya itu.
“Iya, Ran…aku
janji akan lulus 4tahun lagi. Tapi, kamu gag marah kn ?”
“Ya…enggak lah.
Malah g nyangka kamu jatuh cinta ama aku. Aku pikir aku bukan cowok yg kamu
pilih gitu.”
“Maaf Ran. Maaf
aku menyayangimu lebih dari sahabat.”
“ssttt…..g ada
yang salah kok… percaya aja kalo jodoh gag akan kemana kok.”
“He,em…”angguknya
mencoba untuk menunjukkan wajah cerianya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar