Laman

Rabu, 19 Oktober 2016

Tak Menggilainya

Menjadi seorang karyawan biasa itu sudah cukup melelahkan segala pikiran dan kemampuan. Kenapa begitu? Karena sebagai karyawan saja segala pekerjaan atasan (leader) bisa dikerjakan, ini mau di naikkan pangkat. Itu akan semakin menyiksa.

Sebagai perantau di negeri orang. Untuk menduduki sebagai karyawan teladan pun harus di tuntut memenuhi kedatangan setiap hari dan tepat waktu. Ah, sudahlah kalau karyawan terbaik itu kembali ke diri sendiri pakai penilaian sendiri aja. Tapi bukan untuk menyombongkan dan membanggakan diri. Ya, sebagai wujud penghargaan untuk menghargai jiwa dan raga yang sudah lelah selama berjuang.

Yang pasti karyawan teladan itu mengetahui kewajibannya. Pangkat sebagai leader saja hanya akan menambah kewajiban. Leader itu pengayom bukan penyuruh layaknya boss. Dan pangkat leader sudah banyak disalah gunakan. Ini berdasarkan di lapangan kerja yang kenyataannya leader hanya penyuruh karyawan saja. Ketika karyawan salah pasti akan disalahkan  tanpa menunjukkan kesalahan itu berupa apa.
Sungguh ironis bukan. Jangan menggilai pangkat hanya untuk naik gaji saja. Tapi lebi sadar akan kewajiban yang mesti di pikul.

#OneDayOnePost

Kuala Lumpur, 19 Oktober 2016

Selasa, 18 Oktober 2016

Payung

Saat musim penghujan seperti sekarang ini dianjurkan untuk membawa payung. Agar terhindar dari hujan walau kenyataannya masih pakai payung tetep basah kuyup. Mengingat pepatah "sedia payung sebelum hujan" adalah alarm otomatis dalam pikiran seseorang.

Tak banyak juga lho yang masih pada gengsi bawa payung pada musim hujan walau hari itu gak hujan. Alasannya pun macem-macem. Dari yang ribet dan rempong atau saudara deret-deretnya itu. Bahkan ada juga yang kasih alasan bawa payung. Hahaha...nanti disangkain topeng monyet pula. (Yang ini saya tepuk jidat dah).

Lalu, apa gak pada sayang kesehatan. Kesehatan sendiri juga sangat mahal harganya. Apalagi manusia zaman sekarang ini lebih rentan kena penyakit karena air hujan dan virus. Terlebih pada mereka yang antibody atau kekebalan tubuhnya agak lemah, pastinya lebih cepat terserang virus.

Jadi, kemanapun perginya usahakan bawa tas yang bisa muat di isi payung lipat yang simple gitu. Biar terhindar dari hujan dan penyakit. Ingat banyak orang-orang di sekitar yang menyayangi anda, anda sendiri juga jangan membuat susah orang terkasih anda. Jangan lupa bawa payung kemanapun perjalanannya. Dan tetap hati-hati di jalan.


#OneDayOnePost


Kuala Lumpur, 18 Oktober 2016

Senin, 17 Oktober 2016

Kegengsian Tak Berfaedah

Bekerja di perusahaan ternama di ibukota membuat sebagian orang memiliki gengsi yang gede. Bagaimana tidak menurut mereka, mereka sudah menjadi golongan tingkat atas. Padahal gengsi itu banyak yang gak berfaedah alias gak bermanfaat. Buat apa gengsi wong ya masih makan nasi putih. Seandainya saja mereka tau unen-unen jawa "urip mung kanggo mampir ngombe (hidup hanya untuk menumpang minum)"dan mengerti maksudnya. Pasti mereka yang pada punya gengsi gak ketulungan itu sedikit sadar.

Apapun pekrerjaan dan setinggi apa jabatan di perusahaan kalau bukan perusahaan sendiri ya tetep masih kerja sama orang, buat apa punya gengsi. Terlebih yang mereka hanya memandang golongan menengah ke bawah dengan pandangan merendahkan. Bisa jadi Pencipta Kehidupan membalikkan semua. Mengingat Tuhan tidak pernah tidur dan melihat apa yang umatnya kerjakan.

Jadi, sebisa mungkin yang memiliki jabatan tinggi ini jangan sombong dan gengsi berlebihan (kalau bisa ya jangan gengsi deh). Kebanyakan gak berfaedah. Bantulah mereka masih membutuhakan uluran tangan dari golongan menengah ke atas ini. Mungkin bantuan itu bisa memberikan do'a terbaik untuk pemberinya. Kembalikan saja pada Tuhan apa yang sudah diperbuat. Insya Allah akan membuahkan kemanisan dalam hidup.

#OneDayOnePost

Kuala Lumpur, 17 Oktober 2016

Mukidi Lagi, Mungkin Masih Booming


Mukidi adalah orang Jawa yang mencoba peruntungan di ibukota. Semua hal yang dilakukan pasti akan membuat orang terkagum-kagum. Bukan sekedar itu saja bahkan tingkahnya terkadang konyol. Mukidi yang sudah terdaftar menjadi orang Jakarta membuatnya untuk berpikir mencari penghidupan untuk keluarga yang lebih baik. Jakarta yang setiap tahunnya akan tenggelam karena banjir, kemacetan yang setiap harinya membuat orang-orang naik pitam juga udara panas penuh polusi, dan banyak perantau yang mendiaminya. Membuat ibukota yang menjadi kediaman Mukidi tidak pernah sunyi.

Lalu lalang orang mecari pekerjaan dan makian yang dikeluarkan orang di jalanan menjadi semua itu sudah biasa. Mukidi yang hanya tukang ojek namun sangat berpengetahuan luas. Bagaimana tidak, ketika gak ada pelanggan yang menggunakan jasanya. Itu berarti kesempatan untuknya membaca berbagai buku dan berita di media sosial. Di usianya yang sudah berkepala empat bukan tergolong muda juga namun jiwanya masih semangat seperti orang muda.

Di berkembangan zaman Mukidi gak ketinggalan satupun berita. Contohnya saja aplikasi terbaru di Indonesia yang pada waktu itu belum booming dan belum digunakan sepenuhnya oleh warganya. Mukidi lah yang memviralkan semua itu. Mendownload aplikasi “GOJEK” dan mengajak para pelanggan mendownload yang bertujuan agar para pelanggannya tidak rebutan ketika akan menggunakan jasanya. Apalikasi ini adalah solusi terbaik untuknya karena begitu banyaknya pelanggan yang menggunakan jasanya. Keahliannnya mengambil hati pelanggan dan pelayanan yang memuaskan membuat dia kebanjiran pelanggan. Sebelum ada gojek ia kebingungan dan kewalahan melayai pelanggan.

Pekerjaannya kini berjalan dengan lancar tanpa kendala. Tetapi ibukota Jakarta kembali menjadi heboh. Mukidi yang gak mau ketinggalan berita pun menyimak. Ada apa dengan Jakarta? Dan sungguh mencengangkan Jakarta akan berganti kepemimpinan gubernur. Ya, gubernur yang biasa dikenal dengan Ahok keturunan Tionghoa ini akan berakhir masa jabatannya. Namun begitu banyak berita miring tentangnya. Sehingga membuat warga dan orang-orang ternama di ibukota tak lagi mengizinkan beliau masuk dalam Pilkada Cagub Jakarta. Mukidi bangga tapi juga sedih dengan semua berita ini. Bagaimana tidak, semua itu membuat perpecahan persaudaraan antar sesama. Tak memungkiri semua program kerja yang telah dijalankan Ahok membuat Jakarta semakin berkembang dengan baik. Dalam hati Mukidi membatin “Ahok memang bukan pemimpin islam tapi dia bisa amanah dengan semua program kerja. Dan apa ini yang ada di Indonesia saja. Orang gak korupsi di benci warga dan petinggi Negara. Tikus berdasi yang menggerogoti harta rakyatnya saja yang mungkin gak setuju.” Batinnya berbicara sendiri, gak mungkin ia luahkan karena akan semakin banyak yang mengecamnya. Harapan Mukidi, ya semoga Indonesia tanah air tercinta kembali bersatu padu melawan gejolak dan peradaban ini. Kembali Bhineka Tunggal Ika aja lah ya.

 

#OneDayOnePost

#LatePost

 

Kenapa Begitu?


Tiba-tiba hape pintar itu menunjukkan nyala lampunya, tidak seperti biasa. Karena hanya benda mati yang akan nyala lampunya apabila pemiliknya memainkan. Bukan sekedar nyala saja lampunya tapi menimbulkan suara membingitkan yang mengganggu sebagian orang di rumah sunyi itu. Dengan tergopoh sang pemilik mencapainya. Dilihatnya dan berpikir sejenak untuk menjawab panggilan itu. Karena pemanggil bukan orang yang dikenalnya. Tidak ada keinginan apabila pemanggil bukan yang dikenalnya, tapi kali ini memaksa dirinya untuk menjawab.

Setelah memberi salam layaknya orang muslim, ia mendengar dan terus mendengar apa yang dikatakan pemilik suara di seberang sana. Dan pemanggil tidak dikenal itu adalah seorang teman lama yang sudah 10 tahun lalu berpisah. Pemanggil mengingatkan kembali memori yang sudah lampau hingga ia menjadi wafer eh baper.

Membuat ia berpikir ini modus model apalagi yang digunakan. Sungguh sudah muak dengan segala kemodusan yang telah terjadi kebelakangan ini padanya. Namun kali ini memaksa ia berpikir keras untuk mengingat memori lama itu, yang sudahpun ia lupakan. Ingin marah tapi kepada siapa, upaya melupakan kejadian silam itu cukup lama. Tiba-tiba datang tanpa di undang, menyebabkan kepalanya pusing dan hatinya dalam ketakutan. Seperti kebiasaan ia akan memilih satu ruangan dan di pojoklah tempatnya bisa terlindung.

#OneDayOnePost

#LatePost

 Kuala Lumpur, 17 Oktober 2016

 

Selasa, 11 Oktober 2016

Tak Semudah Itu

Tahukah syair yang kutulis untukmu. Yang sekarang dibelahan bumi mana, aku tak tau. Hanya entahlah aku tak pernah tau kamu dimana, mungkin kamu sama sepertiku. Yang sedang memperbaiki diri untuk hari esok. Mempersiapkan dan menjalani proses yang sangat melelahkan di setiap alur perjalanan ini.

Andai kamu ingin tau tentangku. Seperti aku ingin tau dimanakah hati dan pikiranmu bertahta. Kutulis disetiap helaian demi helaian kertas tentang arti rindu padamu.

Perpisahan yang sekian lama membuatku ingin sekali melihat senyum. Iya, senyummu yang mampu meluluh lantahkan hatiku yang begitu beku ini. Sekeras batu yang hanya mampu luntur kerasnya dengan setiap tetes air. Sama seperti hatiku yang super keras ini, hanya mampu melihat senyummu yang menenangkan itulah mampu mengubah pandangan tentang perasaanku sendiri.

Tak semudah itu aku melupakan setiap detik yang berlalu kala dulu. Walau hanya sekian menit namun mampu membuatku ingat sampai ke detik ini. Hanya ini yang kumampu.


#OneDayOnePost

#Batch3

Kuala Lumpur, 11 Oktober 2016

Foto by Rahayu

Senin, 10 Oktober 2016

Rindu Terpendam

Di tanah perantauanlah ia bersandar dari segala kenyataan hidup ini. Jauh dari keluarga tak memutuskan segala cita-cita Rere. Anak ke enam dari delapan saudara ini sungguh memiliki semangat yang tak pernah padam. Karena ia memiliki sejuta mimpi yang harus diwujudkan. Salah satunya memutus kebodohan negerinya. Disamping menjadi tulang punggung keluarga, Rere melanjutkan pendidikan menjadi mahasiswa. Bukan hanya mahasiswa dan bekerja saja. Rere bersama teman-temannya mengajarkan anak-anak yang kurang beruntung untuk belajar membaca dan menulis. Selain itu ia aktif dalam komunitas sosial masyarakat dalam galang dana untuk membantu warga yang membutuhkan. Sungguh rasa syukur tak pernah lupa ia ucap setiap kali ia berkesempatan membantu sesama.

Namun, disebalik kesemua keceriaan Rere ada kerinduan yang mendalam untuk ibu dan ayah juga saudara-saudaranya. 4 tahun berlalu dengan segala suka duka pahit manis kehidupan di perantauan. Bukan ia tidak mau kehilangan sebagian harta hanya untuk bertemu keluarga tetapi ia sudah memutuskan untuk melakukan semua ini dengan segala ketulusan hati agar ia menjadi anak yang mandiri.

Segala rindu yang terpendam hanya mampu ia yang tau dan Sang Kholiq. Meski rindu menggerogoti setiap detik hari yang dilalui. Ia pasrah dan ingin selalu memotivasi dirinya. Untuk terus menjadi yang lebih baik untuk negerinya.

#OneDayOnePost
Kuala Lumpur, 10 Oktober 2016

Kamis, 06 Oktober 2016

Bas Biru Negeri Jiran

Lonceng bel berbunyi. Tanda 12jam yang lalu sudah terlewati dengan target produksi yang diinginkan si majikan. Berduyun-duyunlah mereka yang berseragam keluar dari tempat mencari sesuap nasi. Ada yang berlari tergopoh menuju transport yang sudah disediakan demi tempat duduk selama diperjalanan. Ada juga yang berjalan santai karena masih harus menunggu bas biru.

Matahari pagi semakin bersinar terang tanda akan menuju ketengah langit. Tidak ada tanda-tanda bas biru berstiker kuning datang ke tempat parkir bas. Ani, Izah dan beberapa orang beseragam sama semakin cemas, karena sudah terlambat sekali untuk pulang. Bahkan bas yang lain sudah tiada di tempat. Security yang bertugas cek kawasan sudahpun ke hulu ke hilir mencurigai mereka.
20 menit kemudian. Datanglah yang mereka tunggu-tunggu. Dengan langkah tergopoh Izah yang pertama naik. Dan apa yang diharap tak sesuai kenyataan. Sopir bas memakinya.
"Kau budak mana,hah?" Teriak sopir bas biru.
"S.s.saya budak pak cik lah." Kata Izah
"Bukannn...saya tau lah budak saya macam mana." Bentak si sopir lagi.
Sedang yang dibelakang pada berbisik satu sama lain.
Lalu dengan keberanian yang cukup, Ani menyela. "Kami budak pak cik Abdul (salah satu sopir bas juga). Dia kata ini hari tak boleh datang ambik kita dan suruh kita naik bas pak cik." katanya dengan logat melayu.
"Haaa...saya tak nak hantar kau orang semua. Kau orang turun sekarang!" Jawabnya dengan wajah bengis.
"Heh...pak cik cakap, turun-turunlah. Kita pun ini dah lambat tau." Bentak penumpang bas biru.
Izah yang tak biasa dibentak sebegitupun badannya gemetar. Lalu Ani mengajaknya turun dari bas. Terdengar samar-samar penumpang yang baik pun menyeringai,"Heh...kau manusia ke bukan, cakap dengan orang pun macam itu sungguh. Sama-sama dah lambat jangan buat panas. Kau tak tengok ke budak itu takut." Beberapa saat kemudian bas berlalu dengan kelajuan yang cukup membuat jantung berdetak tak biasa, tanda si sopir memang sangat marah.

Setelah Izah, Ani dan yang lain tak dapat naik bas biru. Mereka memutuskan untuk jalan kaki saja sampai halte bas. Dengan nafas yang memburu mereka masih harus menunggu bas umum. Sedang hari semakin panas dengan matahari sudah mulai menuju ke tengah. Dengan begitu jam istirahat juga terkurangi dengan harus menunggu bas lagi.

Pengalaman yang seperti ini mungkin tidak akan terulang kembali. Di maki sopir bas biru mungkin hanya didapat jika mengalami atmosfer di negeri jiran seperti sekarang ini.

Apapun yang terjadi tetap harus dihadapi, karena itu sudah menjadi sebagian dari kehidupan. Anggap saja semua itu ujian yang mesti dikerjakan dan harus bisa lulus. Dan hasilnya akan dirasakan manis jika sudah keluar nilai-nilai hikmah didalamnya.

#OneDayOnePost
Kuala Lumpur, 6 Oktober 2016

Rabu, 05 Oktober 2016

Kegelapan


Matikan saja lampunya. Biar pekat menghampirimu. Disana itulah tempatmu.
Merenungkan apa yang telah membeku dihatimu. Kau kesal dengan hari ini. Kau lelah dengan semuanya.
Menangislah kalau emang itu yang kau mau.
Ingat! Tidak siapapun tau.
Itu sudah jadi tabiatmu bukan. Sesenggukan dalam gelap. Banjir air mata dan sampai matamu bengkak keesokannya.

Jika ditanya, mengapa?
Kau akan jawab drama filmlah penyebabnya.
Karena kesedihan biar kau rasa.
Bahagia kau bagi dengan sesamamu.
Dengan segala tawa dan candamu.
Itu sudah cukup untuk menghibur hatimu.

#OneDayOnePost
#Batch3
Kuala Lumpur, 5 Oktober 2016

Selasa, 04 Oktober 2016

Diskon!!!

Diskon dan perempuan adalah dua hal yang dominan. Bagaimana tidak ini perkara shopping dengan potongan harga kan? Dari yang punya uang banyak dan sampai yang punya uang sedikit pun juga mau beli barang yang ada diskon.
 
Sumber gambar Google
 
Ceritanya begini. Di tempat kerjaan saya lagi nge-hot ngomongin masalah diskon di mall-mall besar. Karena tempat tinggal di kota untuk ke mall bukan hal sulit bagi teman-teman kerjaan. Didukung dengan tranportasi yang di Kuala Lumpur ini sangat mudah. Dan juga dibarengi dengan perayaan hari besar umat India yang sebentar lagi di Malaysia. Oiya, disini kalau hari-hari libur karena ada perayaan banyak barang diskon. Apalagi deretan nama-nama merk terkenal yang diskonnya kagak nahan (kan fanatik banget sama yang namanya diskon). Karena saya adalah perempuan yang memiliki kewajaran dengan harga barang diskon. Hehehe.
 
Kebetulan hari Sabtu dan di hari itu banyak bos-bos cuti. Sedang asik menyanyi-nyanyi kecil di kerjaan. Seorang teman menyentuh bahu saya. "Ayu nanti hari Minggu free gak?" Kata Kiki. (Ini dikarenakan cuti yang minim dan hari cuti adalah hari bertemu teman-teman kuliah).
Lalu kujawab,"Kemungkinan free, Ki. Kenapa?"
"Ayo kita ke IOI Mall cari barang diskon, kan kita abis gajian." Pas banget kan ngajakin shopping udah gajian gitu.
"Emang disana ada apaan yang diskon?"
"BO (Brands Outlet) lagi diskon gede-gedean. Semua item dijual dengan harga RM10 (Kalau di Indonesia sekitar Rp30.000). Disini saya menganggap RM10 = Rp10.000. Hehehe.
"Yang bener aja, Ki?" Jawabku antusias.
"Yah, loe mah kagak percayaan sama gue. Udah ikut aja loe. Bawa uang aja lah."
"Okelah." Jawabku singkat dan melanjutkan kerja.
 
Sebagai TKI dan Mahasiswa untuk beli harga bermerk itu ya mesti nunggu diskon. Tau lah ya karena uang gajian di bagi beberapa bagian dan harus bias control keuangan sendiri.. Beli barang yang bermerk karena diskon itu sebuah keinginan yang terkabulkan. Kalau gak diskon ya jangan harap beli barang yang harganya berpuluh bahkan beratus-ratus ringgit.
 
Ada alternatif juga bagiku saat belum gajian. Saya biasanya hanya jalan-jalan aja di mall. Ya, sekedar menikmati udara AC yang adem. Karena udara KL yang panas dan membuat badan keringetan. Selainnya saya juga cuci mata aja. Lihat barang-barang yang harga WAW diatas rata-rata dompet. Kan kita g boleh seperti "besar pasak daripada tiang" begitulah kira-kira. Jangan hanya karena udah megang gajian kita lupa ama target dan keluarga di rumah yang menjadi tanggungan. Jadi seketika punya keinginan untuk membeli barang bermerk nunggu diskon atau kalau gak ya ngumpulin uang dulu aja.
#OneDayOnePost
#Batch3 #2ndDay

Senin, 03 Oktober 2016

Mendapat Energi Baru

Sumber dari Google
Seperti yang sudah saya impikan sebelum ini, tapi tak berevaluasi. Sayapun mengubur dalam rasa minder selama ini yang menghantui. Akhirnya, saya putuskan untuk mengikuti kegiatan belajar menulis. Salah satunya ODOP (One Day One Post) untuk angkatan yang ke-3. Walaupun rangkaian kata yang terangkai tak seindah karya teman-teman di sekitar saya. Tapi, para senior tidak jera dan tidak bosan memotivasi siswa baru. Mereka memberikan tips-tips jitu untuk menulis. Dan saya selalu mengingat kata-kata mereka "yang penting nulis dulu. Dibaca atau tidak dibaca urusan belakang". Itu salah satu motivasi yang terucap dari para senior saya.

Sebelum ikut ODOP ini saya mengikuti kegiatan menulis dan komunikasi di universitas saya. Tidak lain kegiatannya menulis reportase untuk di terbitkan di majalah. Disini saya dan teman-teman redaksi berusaha semaksimal mungkin untuk dapat melaksanakan program kerja yang sudah teragenda di PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) cabang Universitas Terbuka Kuala Lumpur.
Eh, sebelumnya perkenalkan saya adalah TKI Malaysia yang bekerja dan kuliah di Univeraitas Terbuka Kuala Lumpur (UTKL).
Berbagai kesibukan kerja membuat saya ingin mewujudkan mimpi untuk terus belajar, belajar dan belajar. Walau menjadi TKI adalah kewajiban saya tetapi belajar adalah yang menjadi prioritas utama saya sekarang ini. Dan menjadi TKI juga Mahasiswa itu rasanya warbyasa. Bagaimana tidak saya dituntut untuk bekerja di pabrik selama 12jam setiap harinya dan di hari cuti saya gunakan untuk meet up dengan teman kampus.
Disitulah saya bertemu orang-orang hebat yang memiliki semangat membara di jiwanya. Tidak lain dan tidak bukan adalah kita sama-sama menjadi TKI dan Mahasiswa. Setiap hari cuti kita gunakan untuk sharing hal-hal yang memotivasi agar tetap semangat.
Beraneka ragam tentunya,kan. Dari Sabang sampai Merauke. Dari perbedaan itulah membuatku paham arti saling menghormati dan menghargai. Energi baru yang saya temukan adalah semangat untuk terus belajar dan berkarya juga membara. Setidaknya hanya mampu menjadi sebagian kecil dari semua kebanggaan bangsa.
Harapan yang diinginkan adalah mampu mempertahankan api semangat yang kini membara untuk berkarya. Salah satunya adalah menulis. Dan syair yang tertulis dalam penaku juga kelak akan menjadi penyemangat orang di sekitarku.
#OneDayOnePost