Laman

Senin, 21 November 2016

Masih Sama

Hari ini seperti hari-hari sebelumnya. Kenapa begitu? Karena rutinitas yang dikerjakan masih sama. Apa sajakah itu? Bangun tidur bersiap-siap untuk berangkat jadi kuli. Kuli di pabrik di negara orang. Walau kelihatan di luar negeri masih sama seperti yang lain bahwasanya masih jadi kuli.

Jangan mikir orang di LN (read:Luar Negeri) itu banyak uangnya ya. Itu salah besar. Kenapa begitu? Karena kita-kita ini hanya menjadi pekerja biasa yang sehari-hari nyari sesuap nasi sama seperti yang di negeri sendiri. Cuma beda tempat aja. Yang bedanya jauh sich ya di banding yang di LN.
Masih nanya, kenapa? Karena di LN bukan negeri sendiri jadi ya harus punya dokumen kemana-mana ada aja yang nanya ada paspor enggak, dokumen izin kamu tinggal di sini mana. Belum lagi kita hanya di kasih copy-annya aja, itupun banyak yang enggak percaya lho. Nah, kalau di negeri sendiri hanya KTP aja kan bahkan gak di bawa sekalipun gak ditanya.

Kembali ke rutinitasku sebagai "kuli". Hanya sebagai kuli yang setiap hari dituntut untuk kerja 12 jam dengan istirahat kira-kira 2jam saja sudah sama sholat.
Di tempat kerja juga angkat-angkat berat. Paling berat sekitar kurang lebih 50kg-an. Gak peduli aku ini perempuan atau laki-laki. Tapi, kebanyakan kerja di LN perempuan kan ya.
Hari Senin, ini aja contohnya. Dari pagi sampai sore menyelesaikan kerja. Sambil disuruh-suruh sama atasan gitu lah. Dari hal sepele sampai yang bertele-tele. Yang penting harus berusaha ikhlas, begitu kata sahabatku. Sebagai kuli yang 12 jam harus menurut perintah atasan. Ketika 12 jam sudah terlewati sudah lega rasanya. Pulang ke rumah kontrakan masak seadanya, makan ala kadarnya anak rantau gitu, sholat, dan secepatnya rehat.

Mau tidur ingat lagi besuk kerja begitu seterusnya. Kalau hampir setiap hari ngeluh pasti berat jalaninnya, kubawa enjoy ajalah. Toh, sebulan sekali gajian. Ingat gaji jadi semangat, karena harus ini dan itu. Yang harus disisihkan sebagai tabungan untuk masa depan.

Ya apapun itu keluhan hari ini, Senin. Cukup segitu aja. Takut besuk berat buat bangun untuk berangkat nguli.
Tetap berayukur dan bersabar dalam zona ini. Dan akan kuhitung detik-detik aku keluar dari zona ini. Semoga segalanya Allah perlancar dan dimudahkan. Aamiin

#ODOP
#Curhat

Ketika Malam

Malam yang sunyi
Melelapkan begitu banyak mata
Mengistirahatkan tubuh yang lelah
Melenakan nyamannya tidur
Mebawanya ke alam mimpi

Malam....
Yang begitu syahdu ketika ini
Membukakan matanya dari lena
Menggerakan anggota tubuh untuk bangun
Mengetuk hati untuk segera beranjak dari  pembaringan

Dengan langkahnya yang gontai
Dia membawa diri ke tempat pancuran air
Mengambil air sedikit demi sedikit
Untuknya membersihkan diri dari hadast kecil
Begitu sebagian tubuhnya tersiram air
Segera dia membaca niat.

Dalam hatinya dia ingin mengadu segalanya
Dan ini saat yang tepat
Begitu memasuki ruangannya dia segera memakai penutup aurat
Dan berniat sholat malam

Lama dia bersujud dalam sujud terakhirnya
Terdetik dalam hati inikah yang terakhir?
'Semoga tidak' raungnya dalam hati
Dia masih banyak dosa dan ingin memperbaiki diri
Mencari bekal untuk dibawa menghadapNYA
Bertaubat dia dalam setiap sujud malamnya.

Keheningan malam ketika ini
Dipecahkan oleh tangisan yang begitu sedu
Memohon ampun atas segala dosa yang dibuat
Dalam lantunan doa dia ingin istiqomah
Ingin segala yang dia lakukan dalam keridhoan Yang Maha Kuasa
Hanya kepada Penciptanya saja dia mengadu
Panjang harapannya untuk bisa bersujud dan ingin dalam pelukan Penciptanya.

#ODOP
#PUISI

Jumat, 18 November 2016

Tentangku

Namaku Rahayu Nurcahyani. Banyak nama panggilan malah kadang bingung juga. Anak nomer 2 dari 3 saudara dan perempuan sendiri. Lahir di Madiun, Jawa Timur tanggal 28 Desember 1993 sekarang terhitung masih umur 22 tahun.
Tinggal di Magetan, Jawa Timur bersama ibu dan adik saja, ayah sudah meninggal sejak saya masih umur 7 tahun.

Saat ini saya kuliah di Universitas Terbuka cabang Batam termasuk di kelompok belajar jarak jauh di Kuala Lumpur, Malaysia. Menjadi mahasiswa dan TKI adalah sebuah tanggung jawab yang saya emban saat ini.

Di Malaysia sudah 4 tahun dan memasuki semester 5 jurusan Akuntansi saat ini. Karena dari awal saya di sini tidak langsung menjadi mahasiswa. Karena ada teman yang mengenalkan UT pada saya setelah 2 tahun kerja.

Memasuki tahun ke 5 di Malaysia dan akan kembali ke tanah air dalam 7 bulan lagi. Banyak pelajaran dan pengalaman hidup selama di sini. Yang tentunya tidak pernah saya dapatkan semasa di bangku sekolah.

Dan sekarang berharap untuk secepatnya pulang dan mencari pekerjaan di negeri sendiri. Semoga yang Maha Kaya membukakan pintu rezeki untuk saya di tanah air. Aamiin.
Sudah segitu aja ya perkenalannya. Lebih lanjut bisa PM (Personal Message) ke saya ya.

#ODOP
#TantanganODOP

Bubur

Pagi ini dengan mata ngantuk dan perut keroncongan. Kugagahkan juga untuk memasak. Sesampai dirumah saya menuju kulkas dan mengambil sayur untuk dimasak. Betapa apesnya hari ini. Bumbu halus yang menjadi stock habis.

Dengan langkah lemah kugagahkan juga untuk mengupas bawang merah dan bawang putih untuk setelahnya dihaluskan. Agar bumbu halus yang menjadi stock dan instan ini tahan lama, maka saya masak terlebih dahulu sebelum disimpan.

Mata yang sudah mengantuk hebat. Membuat saya ingin cepat menyelesaikan pekerjaan ini. Biarlah lapar ini kubawa tidur. Setelah bumbu bawang sudah masak. Langsung kumatikan kompor dan membiarkannya dingin di wajan. Nantilah kalau saya sudah bangun disimpan di toples, begitu batinku.

Setelah 6 jam kemudian saya bangun dan menunaikan sholat dzuhur. Selesai kupanjatkan do'a kepada Sang Kholiq, saya berniat ke dapur untuk menyimpan bumbu tersebut.

Ternyata di bagian pinggir sudah ada yang menyendoknya. Kelihatan banyak juga si pengambil ini, batinku dalam hati.
Cepat kumasukkan ke dalam toples untuk disimpan.

Beberapa menit kemudian Resa memanggilku. " Yu itu bawang halus di masak ya?" "Iya, kenapa emangnya?"
"Tadi Kiki ambil, dikira bubur katanya."
"Hah....pantesan kayak ada yang nyendok tadi. Emang dia gak tau apa kalau ini bawang. Masih bau juga kan nih." Ku sodorkan sedikit ke hidung Resa. "Iya, tapi si Kikikan lagi flu berat, yu. Indra penciumannya terganggu kan. Tadi dia sempat marah juga sih. Dan bilang tumben ada yang perhatian saat dia sakit ada yang bikin bubur gitu."
"Kasihannya lah dia kan. Nanti ku tebuslah buat bubur beneran buat dia. Sekarang masih tidur kan dia?"
"Iya..abis minum obat tadi terus rehat lagi." -End-

#ODOP
#Latepost

Selasa, 15 November 2016

Lebih Mepet Lebih Cepat?

Jam dinding sudah menuunjukkan pukul 5.50 pagi. Membuat saya tergesa-gesa untuk berangkat kerja. Sedangkan mata baru saja terbuka, dikarenakan tidur yang lambat membuat bangun lambat. Dengan pantas ku capai handuk dan masuk kamar mandi. Mandi kilat ceritanya. Setelahnya langsung menunaikan sholat subuh dan menyetrika kerudung. Dengan kilat tentunya. Waktu mepet seperti ini tidak membuatku kepikiran untuk bersarapan.

Karena sadar kemacetan ibukota pada saat jam kerja seperti sekarang ini. Dengan sigap kuraih kunci motor kesayangan dan cepat gas ke tempat tujuan. Dalam perjalanan berharap  macet hari ini tidak parah. Sehingga membuatku lebih cepat sampai. Kalau lambat habislah pasti boss marah.

Dan hari masih rezekiku. Jalanan ibukota lancar dan sedikit lengang. Membuatku sampai dan boss belum datang. Syukurlah, batin hatiku.

Segera kunyalakan komputer dan merenung. Kenapa setiap kali kurang sepuluh menit sebelum jam 6. Saya lebih cepet bersiap dibandingkan saya yang bangun jam 5 dan begitu santainya saya bersiap. Tapi saya tidak menyukai kemepetan ini! Membuatku gugup dan ada yang lupa untuk dilakukan. Hal sepele sich. Tapi berakibat fatal. Sarapan, kalau tidak dilakukan sekali akan membuat saya merasa lemas terasa tidak punya tenaga.

Selambat apa saya tidur sebisa mungkin untuk bangun lebih awal. Agar persiapan tidak mepet dan saya bisa sarapan. Sekedar minum teh dan makan roti sudah cukuplah.

Senin, 14 November 2016

Mencoba Untuk Bangkit

Sudah beberapa minggu gak ikut post tulisan di ODOP dengan alasan merasa gak sanggup setiap hari nulis. Apalagi di tambah dengan kerjaan yang semakin banyak.
Dan hari ini saya bertekad bangkitkan semangat yang sempat redup. Dengan bismillah dan berniat tulus melanjutkan minat menulis demi keabadian kelak.
Harapan terbesar ya semoga ini juga gak cuma omong kosongku saja. Tetap kembali istiqomah dan melanjutkan apa yang sudah di pilih ini.
Maafkan saya admin ODOP atas ketidak konsistenan saya dalam bergabung dengan ODOP. Insya Allah saya kembali dengan semangat yang baru.
Semoga juga tetap ada di sekeliling orang-orang semangat dan memotivasi juga sumber inspirasi saya.

#ODOP

Kuala Lumpur, 14 November 2016

Rabu, 19 Oktober 2016

Tak Menggilainya

Menjadi seorang karyawan biasa itu sudah cukup melelahkan segala pikiran dan kemampuan. Kenapa begitu? Karena sebagai karyawan saja segala pekerjaan atasan (leader) bisa dikerjakan, ini mau di naikkan pangkat. Itu akan semakin menyiksa.

Sebagai perantau di negeri orang. Untuk menduduki sebagai karyawan teladan pun harus di tuntut memenuhi kedatangan setiap hari dan tepat waktu. Ah, sudahlah kalau karyawan terbaik itu kembali ke diri sendiri pakai penilaian sendiri aja. Tapi bukan untuk menyombongkan dan membanggakan diri. Ya, sebagai wujud penghargaan untuk menghargai jiwa dan raga yang sudah lelah selama berjuang.

Yang pasti karyawan teladan itu mengetahui kewajibannya. Pangkat sebagai leader saja hanya akan menambah kewajiban. Leader itu pengayom bukan penyuruh layaknya boss. Dan pangkat leader sudah banyak disalah gunakan. Ini berdasarkan di lapangan kerja yang kenyataannya leader hanya penyuruh karyawan saja. Ketika karyawan salah pasti akan disalahkan  tanpa menunjukkan kesalahan itu berupa apa.
Sungguh ironis bukan. Jangan menggilai pangkat hanya untuk naik gaji saja. Tapi lebi sadar akan kewajiban yang mesti di pikul.

#OneDayOnePost

Kuala Lumpur, 19 Oktober 2016

Selasa, 18 Oktober 2016

Payung

Saat musim penghujan seperti sekarang ini dianjurkan untuk membawa payung. Agar terhindar dari hujan walau kenyataannya masih pakai payung tetep basah kuyup. Mengingat pepatah "sedia payung sebelum hujan" adalah alarm otomatis dalam pikiran seseorang.

Tak banyak juga lho yang masih pada gengsi bawa payung pada musim hujan walau hari itu gak hujan. Alasannya pun macem-macem. Dari yang ribet dan rempong atau saudara deret-deretnya itu. Bahkan ada juga yang kasih alasan bawa payung. Hahaha...nanti disangkain topeng monyet pula. (Yang ini saya tepuk jidat dah).

Lalu, apa gak pada sayang kesehatan. Kesehatan sendiri juga sangat mahal harganya. Apalagi manusia zaman sekarang ini lebih rentan kena penyakit karena air hujan dan virus. Terlebih pada mereka yang antibody atau kekebalan tubuhnya agak lemah, pastinya lebih cepat terserang virus.

Jadi, kemanapun perginya usahakan bawa tas yang bisa muat di isi payung lipat yang simple gitu. Biar terhindar dari hujan dan penyakit. Ingat banyak orang-orang di sekitar yang menyayangi anda, anda sendiri juga jangan membuat susah orang terkasih anda. Jangan lupa bawa payung kemanapun perjalanannya. Dan tetap hati-hati di jalan.


#OneDayOnePost


Kuala Lumpur, 18 Oktober 2016

Senin, 17 Oktober 2016

Kegengsian Tak Berfaedah

Bekerja di perusahaan ternama di ibukota membuat sebagian orang memiliki gengsi yang gede. Bagaimana tidak menurut mereka, mereka sudah menjadi golongan tingkat atas. Padahal gengsi itu banyak yang gak berfaedah alias gak bermanfaat. Buat apa gengsi wong ya masih makan nasi putih. Seandainya saja mereka tau unen-unen jawa "urip mung kanggo mampir ngombe (hidup hanya untuk menumpang minum)"dan mengerti maksudnya. Pasti mereka yang pada punya gengsi gak ketulungan itu sedikit sadar.

Apapun pekrerjaan dan setinggi apa jabatan di perusahaan kalau bukan perusahaan sendiri ya tetep masih kerja sama orang, buat apa punya gengsi. Terlebih yang mereka hanya memandang golongan menengah ke bawah dengan pandangan merendahkan. Bisa jadi Pencipta Kehidupan membalikkan semua. Mengingat Tuhan tidak pernah tidur dan melihat apa yang umatnya kerjakan.

Jadi, sebisa mungkin yang memiliki jabatan tinggi ini jangan sombong dan gengsi berlebihan (kalau bisa ya jangan gengsi deh). Kebanyakan gak berfaedah. Bantulah mereka masih membutuhakan uluran tangan dari golongan menengah ke atas ini. Mungkin bantuan itu bisa memberikan do'a terbaik untuk pemberinya. Kembalikan saja pada Tuhan apa yang sudah diperbuat. Insya Allah akan membuahkan kemanisan dalam hidup.

#OneDayOnePost

Kuala Lumpur, 17 Oktober 2016

Mukidi Lagi, Mungkin Masih Booming


Mukidi adalah orang Jawa yang mencoba peruntungan di ibukota. Semua hal yang dilakukan pasti akan membuat orang terkagum-kagum. Bukan sekedar itu saja bahkan tingkahnya terkadang konyol. Mukidi yang sudah terdaftar menjadi orang Jakarta membuatnya untuk berpikir mencari penghidupan untuk keluarga yang lebih baik. Jakarta yang setiap tahunnya akan tenggelam karena banjir, kemacetan yang setiap harinya membuat orang-orang naik pitam juga udara panas penuh polusi, dan banyak perantau yang mendiaminya. Membuat ibukota yang menjadi kediaman Mukidi tidak pernah sunyi.

Lalu lalang orang mecari pekerjaan dan makian yang dikeluarkan orang di jalanan menjadi semua itu sudah biasa. Mukidi yang hanya tukang ojek namun sangat berpengetahuan luas. Bagaimana tidak, ketika gak ada pelanggan yang menggunakan jasanya. Itu berarti kesempatan untuknya membaca berbagai buku dan berita di media sosial. Di usianya yang sudah berkepala empat bukan tergolong muda juga namun jiwanya masih semangat seperti orang muda.

Di berkembangan zaman Mukidi gak ketinggalan satupun berita. Contohnya saja aplikasi terbaru di Indonesia yang pada waktu itu belum booming dan belum digunakan sepenuhnya oleh warganya. Mukidi lah yang memviralkan semua itu. Mendownload aplikasi “GOJEK” dan mengajak para pelanggan mendownload yang bertujuan agar para pelanggannya tidak rebutan ketika akan menggunakan jasanya. Apalikasi ini adalah solusi terbaik untuknya karena begitu banyaknya pelanggan yang menggunakan jasanya. Keahliannnya mengambil hati pelanggan dan pelayanan yang memuaskan membuat dia kebanjiran pelanggan. Sebelum ada gojek ia kebingungan dan kewalahan melayai pelanggan.

Pekerjaannya kini berjalan dengan lancar tanpa kendala. Tetapi ibukota Jakarta kembali menjadi heboh. Mukidi yang gak mau ketinggalan berita pun menyimak. Ada apa dengan Jakarta? Dan sungguh mencengangkan Jakarta akan berganti kepemimpinan gubernur. Ya, gubernur yang biasa dikenal dengan Ahok keturunan Tionghoa ini akan berakhir masa jabatannya. Namun begitu banyak berita miring tentangnya. Sehingga membuat warga dan orang-orang ternama di ibukota tak lagi mengizinkan beliau masuk dalam Pilkada Cagub Jakarta. Mukidi bangga tapi juga sedih dengan semua berita ini. Bagaimana tidak, semua itu membuat perpecahan persaudaraan antar sesama. Tak memungkiri semua program kerja yang telah dijalankan Ahok membuat Jakarta semakin berkembang dengan baik. Dalam hati Mukidi membatin “Ahok memang bukan pemimpin islam tapi dia bisa amanah dengan semua program kerja. Dan apa ini yang ada di Indonesia saja. Orang gak korupsi di benci warga dan petinggi Negara. Tikus berdasi yang menggerogoti harta rakyatnya saja yang mungkin gak setuju.” Batinnya berbicara sendiri, gak mungkin ia luahkan karena akan semakin banyak yang mengecamnya. Harapan Mukidi, ya semoga Indonesia tanah air tercinta kembali bersatu padu melawan gejolak dan peradaban ini. Kembali Bhineka Tunggal Ika aja lah ya.

 

#OneDayOnePost

#LatePost

 

Kenapa Begitu?


Tiba-tiba hape pintar itu menunjukkan nyala lampunya, tidak seperti biasa. Karena hanya benda mati yang akan nyala lampunya apabila pemiliknya memainkan. Bukan sekedar nyala saja lampunya tapi menimbulkan suara membingitkan yang mengganggu sebagian orang di rumah sunyi itu. Dengan tergopoh sang pemilik mencapainya. Dilihatnya dan berpikir sejenak untuk menjawab panggilan itu. Karena pemanggil bukan orang yang dikenalnya. Tidak ada keinginan apabila pemanggil bukan yang dikenalnya, tapi kali ini memaksa dirinya untuk menjawab.

Setelah memberi salam layaknya orang muslim, ia mendengar dan terus mendengar apa yang dikatakan pemilik suara di seberang sana. Dan pemanggil tidak dikenal itu adalah seorang teman lama yang sudah 10 tahun lalu berpisah. Pemanggil mengingatkan kembali memori yang sudah lampau hingga ia menjadi wafer eh baper.

Membuat ia berpikir ini modus model apalagi yang digunakan. Sungguh sudah muak dengan segala kemodusan yang telah terjadi kebelakangan ini padanya. Namun kali ini memaksa ia berpikir keras untuk mengingat memori lama itu, yang sudahpun ia lupakan. Ingin marah tapi kepada siapa, upaya melupakan kejadian silam itu cukup lama. Tiba-tiba datang tanpa di undang, menyebabkan kepalanya pusing dan hatinya dalam ketakutan. Seperti kebiasaan ia akan memilih satu ruangan dan di pojoklah tempatnya bisa terlindung.

#OneDayOnePost

#LatePost

 Kuala Lumpur, 17 Oktober 2016

 

Selasa, 11 Oktober 2016

Tak Semudah Itu

Tahukah syair yang kutulis untukmu. Yang sekarang dibelahan bumi mana, aku tak tau. Hanya entahlah aku tak pernah tau kamu dimana, mungkin kamu sama sepertiku. Yang sedang memperbaiki diri untuk hari esok. Mempersiapkan dan menjalani proses yang sangat melelahkan di setiap alur perjalanan ini.

Andai kamu ingin tau tentangku. Seperti aku ingin tau dimanakah hati dan pikiranmu bertahta. Kutulis disetiap helaian demi helaian kertas tentang arti rindu padamu.

Perpisahan yang sekian lama membuatku ingin sekali melihat senyum. Iya, senyummu yang mampu meluluh lantahkan hatiku yang begitu beku ini. Sekeras batu yang hanya mampu luntur kerasnya dengan setiap tetes air. Sama seperti hatiku yang super keras ini, hanya mampu melihat senyummu yang menenangkan itulah mampu mengubah pandangan tentang perasaanku sendiri.

Tak semudah itu aku melupakan setiap detik yang berlalu kala dulu. Walau hanya sekian menit namun mampu membuatku ingat sampai ke detik ini. Hanya ini yang kumampu.


#OneDayOnePost

#Batch3

Kuala Lumpur, 11 Oktober 2016

Foto by Rahayu

Senin, 10 Oktober 2016

Rindu Terpendam

Di tanah perantauanlah ia bersandar dari segala kenyataan hidup ini. Jauh dari keluarga tak memutuskan segala cita-cita Rere. Anak ke enam dari delapan saudara ini sungguh memiliki semangat yang tak pernah padam. Karena ia memiliki sejuta mimpi yang harus diwujudkan. Salah satunya memutus kebodohan negerinya. Disamping menjadi tulang punggung keluarga, Rere melanjutkan pendidikan menjadi mahasiswa. Bukan hanya mahasiswa dan bekerja saja. Rere bersama teman-temannya mengajarkan anak-anak yang kurang beruntung untuk belajar membaca dan menulis. Selain itu ia aktif dalam komunitas sosial masyarakat dalam galang dana untuk membantu warga yang membutuhkan. Sungguh rasa syukur tak pernah lupa ia ucap setiap kali ia berkesempatan membantu sesama.

Namun, disebalik kesemua keceriaan Rere ada kerinduan yang mendalam untuk ibu dan ayah juga saudara-saudaranya. 4 tahun berlalu dengan segala suka duka pahit manis kehidupan di perantauan. Bukan ia tidak mau kehilangan sebagian harta hanya untuk bertemu keluarga tetapi ia sudah memutuskan untuk melakukan semua ini dengan segala ketulusan hati agar ia menjadi anak yang mandiri.

Segala rindu yang terpendam hanya mampu ia yang tau dan Sang Kholiq. Meski rindu menggerogoti setiap detik hari yang dilalui. Ia pasrah dan ingin selalu memotivasi dirinya. Untuk terus menjadi yang lebih baik untuk negerinya.

#OneDayOnePost
Kuala Lumpur, 10 Oktober 2016

Kamis, 06 Oktober 2016

Bas Biru Negeri Jiran

Lonceng bel berbunyi. Tanda 12jam yang lalu sudah terlewati dengan target produksi yang diinginkan si majikan. Berduyun-duyunlah mereka yang berseragam keluar dari tempat mencari sesuap nasi. Ada yang berlari tergopoh menuju transport yang sudah disediakan demi tempat duduk selama diperjalanan. Ada juga yang berjalan santai karena masih harus menunggu bas biru.

Matahari pagi semakin bersinar terang tanda akan menuju ketengah langit. Tidak ada tanda-tanda bas biru berstiker kuning datang ke tempat parkir bas. Ani, Izah dan beberapa orang beseragam sama semakin cemas, karena sudah terlambat sekali untuk pulang. Bahkan bas yang lain sudah tiada di tempat. Security yang bertugas cek kawasan sudahpun ke hulu ke hilir mencurigai mereka.
20 menit kemudian. Datanglah yang mereka tunggu-tunggu. Dengan langkah tergopoh Izah yang pertama naik. Dan apa yang diharap tak sesuai kenyataan. Sopir bas memakinya.
"Kau budak mana,hah?" Teriak sopir bas biru.
"S.s.saya budak pak cik lah." Kata Izah
"Bukannn...saya tau lah budak saya macam mana." Bentak si sopir lagi.
Sedang yang dibelakang pada berbisik satu sama lain.
Lalu dengan keberanian yang cukup, Ani menyela. "Kami budak pak cik Abdul (salah satu sopir bas juga). Dia kata ini hari tak boleh datang ambik kita dan suruh kita naik bas pak cik." katanya dengan logat melayu.
"Haaa...saya tak nak hantar kau orang semua. Kau orang turun sekarang!" Jawabnya dengan wajah bengis.
"Heh...pak cik cakap, turun-turunlah. Kita pun ini dah lambat tau." Bentak penumpang bas biru.
Izah yang tak biasa dibentak sebegitupun badannya gemetar. Lalu Ani mengajaknya turun dari bas. Terdengar samar-samar penumpang yang baik pun menyeringai,"Heh...kau manusia ke bukan, cakap dengan orang pun macam itu sungguh. Sama-sama dah lambat jangan buat panas. Kau tak tengok ke budak itu takut." Beberapa saat kemudian bas berlalu dengan kelajuan yang cukup membuat jantung berdetak tak biasa, tanda si sopir memang sangat marah.

Setelah Izah, Ani dan yang lain tak dapat naik bas biru. Mereka memutuskan untuk jalan kaki saja sampai halte bas. Dengan nafas yang memburu mereka masih harus menunggu bas umum. Sedang hari semakin panas dengan matahari sudah mulai menuju ke tengah. Dengan begitu jam istirahat juga terkurangi dengan harus menunggu bas lagi.

Pengalaman yang seperti ini mungkin tidak akan terulang kembali. Di maki sopir bas biru mungkin hanya didapat jika mengalami atmosfer di negeri jiran seperti sekarang ini.

Apapun yang terjadi tetap harus dihadapi, karena itu sudah menjadi sebagian dari kehidupan. Anggap saja semua itu ujian yang mesti dikerjakan dan harus bisa lulus. Dan hasilnya akan dirasakan manis jika sudah keluar nilai-nilai hikmah didalamnya.

#OneDayOnePost
Kuala Lumpur, 6 Oktober 2016

Rabu, 05 Oktober 2016

Kegelapan


Matikan saja lampunya. Biar pekat menghampirimu. Disana itulah tempatmu.
Merenungkan apa yang telah membeku dihatimu. Kau kesal dengan hari ini. Kau lelah dengan semuanya.
Menangislah kalau emang itu yang kau mau.
Ingat! Tidak siapapun tau.
Itu sudah jadi tabiatmu bukan. Sesenggukan dalam gelap. Banjir air mata dan sampai matamu bengkak keesokannya.

Jika ditanya, mengapa?
Kau akan jawab drama filmlah penyebabnya.
Karena kesedihan biar kau rasa.
Bahagia kau bagi dengan sesamamu.
Dengan segala tawa dan candamu.
Itu sudah cukup untuk menghibur hatimu.

#OneDayOnePost
#Batch3
Kuala Lumpur, 5 Oktober 2016

Selasa, 04 Oktober 2016

Diskon!!!

Diskon dan perempuan adalah dua hal yang dominan. Bagaimana tidak ini perkara shopping dengan potongan harga kan? Dari yang punya uang banyak dan sampai yang punya uang sedikit pun juga mau beli barang yang ada diskon.
 
Sumber gambar Google
 
Ceritanya begini. Di tempat kerjaan saya lagi nge-hot ngomongin masalah diskon di mall-mall besar. Karena tempat tinggal di kota untuk ke mall bukan hal sulit bagi teman-teman kerjaan. Didukung dengan tranportasi yang di Kuala Lumpur ini sangat mudah. Dan juga dibarengi dengan perayaan hari besar umat India yang sebentar lagi di Malaysia. Oiya, disini kalau hari-hari libur karena ada perayaan banyak barang diskon. Apalagi deretan nama-nama merk terkenal yang diskonnya kagak nahan (kan fanatik banget sama yang namanya diskon). Karena saya adalah perempuan yang memiliki kewajaran dengan harga barang diskon. Hehehe.
 
Kebetulan hari Sabtu dan di hari itu banyak bos-bos cuti. Sedang asik menyanyi-nyanyi kecil di kerjaan. Seorang teman menyentuh bahu saya. "Ayu nanti hari Minggu free gak?" Kata Kiki. (Ini dikarenakan cuti yang minim dan hari cuti adalah hari bertemu teman-teman kuliah).
Lalu kujawab,"Kemungkinan free, Ki. Kenapa?"
"Ayo kita ke IOI Mall cari barang diskon, kan kita abis gajian." Pas banget kan ngajakin shopping udah gajian gitu.
"Emang disana ada apaan yang diskon?"
"BO (Brands Outlet) lagi diskon gede-gedean. Semua item dijual dengan harga RM10 (Kalau di Indonesia sekitar Rp30.000). Disini saya menganggap RM10 = Rp10.000. Hehehe.
"Yang bener aja, Ki?" Jawabku antusias.
"Yah, loe mah kagak percayaan sama gue. Udah ikut aja loe. Bawa uang aja lah."
"Okelah." Jawabku singkat dan melanjutkan kerja.
 
Sebagai TKI dan Mahasiswa untuk beli harga bermerk itu ya mesti nunggu diskon. Tau lah ya karena uang gajian di bagi beberapa bagian dan harus bias control keuangan sendiri.. Beli barang yang bermerk karena diskon itu sebuah keinginan yang terkabulkan. Kalau gak diskon ya jangan harap beli barang yang harganya berpuluh bahkan beratus-ratus ringgit.
 
Ada alternatif juga bagiku saat belum gajian. Saya biasanya hanya jalan-jalan aja di mall. Ya, sekedar menikmati udara AC yang adem. Karena udara KL yang panas dan membuat badan keringetan. Selainnya saya juga cuci mata aja. Lihat barang-barang yang harga WAW diatas rata-rata dompet. Kan kita g boleh seperti "besar pasak daripada tiang" begitulah kira-kira. Jangan hanya karena udah megang gajian kita lupa ama target dan keluarga di rumah yang menjadi tanggungan. Jadi seketika punya keinginan untuk membeli barang bermerk nunggu diskon atau kalau gak ya ngumpulin uang dulu aja.
#OneDayOnePost
#Batch3 #2ndDay

Senin, 03 Oktober 2016

Mendapat Energi Baru

Sumber dari Google
Seperti yang sudah saya impikan sebelum ini, tapi tak berevaluasi. Sayapun mengubur dalam rasa minder selama ini yang menghantui. Akhirnya, saya putuskan untuk mengikuti kegiatan belajar menulis. Salah satunya ODOP (One Day One Post) untuk angkatan yang ke-3. Walaupun rangkaian kata yang terangkai tak seindah karya teman-teman di sekitar saya. Tapi, para senior tidak jera dan tidak bosan memotivasi siswa baru. Mereka memberikan tips-tips jitu untuk menulis. Dan saya selalu mengingat kata-kata mereka "yang penting nulis dulu. Dibaca atau tidak dibaca urusan belakang". Itu salah satu motivasi yang terucap dari para senior saya.

Sebelum ikut ODOP ini saya mengikuti kegiatan menulis dan komunikasi di universitas saya. Tidak lain kegiatannya menulis reportase untuk di terbitkan di majalah. Disini saya dan teman-teman redaksi berusaha semaksimal mungkin untuk dapat melaksanakan program kerja yang sudah teragenda di PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) cabang Universitas Terbuka Kuala Lumpur.
Eh, sebelumnya perkenalkan saya adalah TKI Malaysia yang bekerja dan kuliah di Univeraitas Terbuka Kuala Lumpur (UTKL).
Berbagai kesibukan kerja membuat saya ingin mewujudkan mimpi untuk terus belajar, belajar dan belajar. Walau menjadi TKI adalah kewajiban saya tetapi belajar adalah yang menjadi prioritas utama saya sekarang ini. Dan menjadi TKI juga Mahasiswa itu rasanya warbyasa. Bagaimana tidak saya dituntut untuk bekerja di pabrik selama 12jam setiap harinya dan di hari cuti saya gunakan untuk meet up dengan teman kampus.
Disitulah saya bertemu orang-orang hebat yang memiliki semangat membara di jiwanya. Tidak lain dan tidak bukan adalah kita sama-sama menjadi TKI dan Mahasiswa. Setiap hari cuti kita gunakan untuk sharing hal-hal yang memotivasi agar tetap semangat.
Beraneka ragam tentunya,kan. Dari Sabang sampai Merauke. Dari perbedaan itulah membuatku paham arti saling menghormati dan menghargai. Energi baru yang saya temukan adalah semangat untuk terus belajar dan berkarya juga membara. Setidaknya hanya mampu menjadi sebagian kecil dari semua kebanggaan bangsa.
Harapan yang diinginkan adalah mampu mempertahankan api semangat yang kini membara untuk berkarya. Salah satunya adalah menulis. Dan syair yang tertulis dalam penaku juga kelak akan menjadi penyemangat orang di sekitarku.
#OneDayOnePost

Rabu, 10 Agustus 2016

Sekilas tentang film,


“Rudy Habibie (Habibie Ainun 2)”

Film Indonesia yang bisa tayang di Malaysia pada tanggal 4 Agustus 2016 membuat saya terpukau. Terpukau disebelah mananya. Oke, saya dikesempatan kali ini ingin menceritakan sekilas cerita tentang film ini.

Sebenarnya ini adalah cerita pak Habibie pada saat masih muda dan belum menikah dengan Bu Ainun. Dan, beginilah ceritanya…

Awalnya saya tahu film Rudy Habibie ini diiklankan disalahsatu stasiun tv di Malaysia. Saya pun bertanya-tanya siapa sich, Rudy Habibie ini? Iya, bikin penasaran kan. Yang saya tahu nama Habibie hanya mantan presiden RI, tapi tidak ada nama Rudy. Karena penasaran semakin menjadi-jadi saya putuskan untuk nonton filmnya di bioskop Malaysia. Dan saya juga nekad untuk nonton sendiri. Ini bukan berarti saya tidak mengajak teman ya, melainkan bertujuan agar saya bisa konsentrasi dan mengambil isi dari film ini.

Film yang disutradai oleh Hanung Bramatya ini sungguh inspiratif sekali untuk anak-anak muda penerus bangsa Indonesia. Kenapa begitu? Karena di dalam film ini terdapat banyak sekali kata-kata yang membuat jiwa penerus bangsa semangat melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi. Demi mewujudkan bangsa yang maju dan tidak dipandang sebelah mata oleh Negara lain.

Awal cerita film ini adalah seorang anak kecil yang pandai dan cerdas bernama Bachruddin Jusuf Habibie dari Pare-Pare sebuah kota di provinsi Sulawesi Selatan. Dalam keluarganya dia di panggil Rudy Habibie. Saat Rudy kecil Pare-Pare di serang oleh penjajah dari Jepang serangan dari udara itu menghancurkan rumah penduduk, kantor pelayanan dan sejumlah kerusakan lainnya masih banyak. Penduduk Pare-Pare berusaha mengungsi ke tempat yang aman. Termasuk keluarga Rudy, ikut mengungsi juga. Saat penduduk kebingungan mencari tempat aman. Rudy berusaha kembali lagi ke rumahnya karena orang tuanya tidak membawa mikano kesayangannya. Iya, mikano ini sejenis kerangka pesawat dari besi atau kayu. Rudy berhasil membawa mikano dan sebuah buku keilmiahan tentang pesawat. Rudy kecil selalu mendapat motivasi dari papinya. Papinya ingin Rudy dewasa nanti mampu membuat pesawat yang mampu membawa papi, mami, saudara-saudaranya juga kakek serta neneknya mengelilingi dunia dan juga menjadi mata air untuk sekelilingnya. Dalam benaknya ada rasa trauma akan pesawat, ini dikarenakan kampung halamannya dijajah Jepang melalui serangan udara menggunakan pesawat tempur. Akhirnya kedua orangtua Rudy berhasil memboyongnya kembali ke Gorontalo, tempat asal papinya, sedang ibunya dari Jawa. Rudy kecil adalah seorang anak yang pandai cerdas dan selalu ingin tau. Rasa keinginantahuannya itu sampai ia utarakan pertanyaan ke papinya, “kalau papi dari Gorontalo dan mami dari Jawa, Rudy dari apa?” lalu papinya menjawab “Rudy adalah Indonesia.” Papinya ingin Rudy menjadi “mata air”. Artinya adalah menjadi generasi penerus bangsa yang mencintai bangsa, memajukan bangsa dan mengharumkan bangsa Indonesia di mata dunia. Karena pada waktu itu banyak Negara lain tidak mengenal Indonesia yang baru merdeka. Tapi, Papi Rudy tidak berumur panjang. Tidak berapa lama setelah Rudy khitan papinya meninggal dunia dalam sujudnya sebagai imam di sholat jamaah bersama keluarga, sehingga Rudy lah yang menggantikan imam sholat.

Betapa terpukulnya Mami Rudy dan saudara-saudaranya atas kepergian ayah sebagai tulang punggung keluarga. Seiring berjalannya waktu Rudy tumbuh menjadi anak yatim namun tak pernah kekurangan kasih sayang. Begitu papinya meninggal dia memdapat motivasi yang tidak kalah hebat dari maminya. Sehingga Rudy yang pandai itu mampu meloncat tahun kuliah demi mengejar sekolah ke Jerman. Ia sekolah ke Jerman bukan dari beasiswa Bangsa Indonesia. Melainkan maminya yang keturunan ningrat di Pulau Jawa lah yang mampu membiayai Rudy sekolah ke Jerman. Besar cita-cita Rudy untuk membangun Industry Dirgantara Republik Indonesia.

Di Jerman dia bertemu dengan seorang pastur di sebuah gereja. Pastur itu fasih berbahasa Indonesia. Rudy pun tidak kalah dia pun mengusai bahasa Jerman. Di Jerman dia akan melakukan test masuk di Universitas Teknologi Rhein Westfalen  atau dikenal dengan sebutan RWTH. Rudy Habibie lolos dari test tersebut dan sekarang menjadi mahasiswa di Jerman. Di sana dia bertemu dengan teman-teman dari Indonesia.

Tetapi kebanyakan teman Rudy yang sekolah di Jerman memdapat beasiswa dari pemerintah Indonesia. Sampai suatu hari Duta Besar Indonesia di Jerman memberikan keleluasaan untuk pelajar Indonesia mendirikan organisasi bernama PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia). Dan di situlah akan diadakan pemilihan ketua PPI untuk kota Achen. Rudy Habibie mecoba mencalonkan diri sebagai ketua, salah satu visinya adalah membangun Industry Dirgantara di Indonesia. Dan hasil voting memutuskan bahwa dia menjadi ketua PPI pada masa itu. Di samping kinerjanya sebagai ketua PPI, Rudy pun juga mahasiswa biasa yang memiliki segudang tugas dari sang dosen. Sehingga dia di minta untuk pindah kewarganegaraan menjadi warga Negara Jerman, itu dikarenakan prestasinya yang mampu membuat kerangka pesawat sampai mampu terbang.

Sebagai ketua PPI yang memiliki visi besar untuk kemajuan bangsa itu. Rudy harus berhadapan dengan mahasiswa senior, Panca dan teman-temannya. Merakalah yang selalu mengekang visi Rudy, segala cara dihalalkannya untuk menggagalkan visi Rudy. Sampai pada suatu tahap Rudy pun nekad melawan mereka dan teman-teman yang banyak tidak yakin bahwa visi Rudy tidak berhasil. Dalam kekacauan itu Rudy yang membaca sebuah pengumuman bahwa di Jerman akan ada konser sebuah band. Untuk mengurangi stresnya Rudy pun turut hadir di konser itu. Dan saat itula ia bertemu dengan gadis keturunan Polandia yang fasih berbahasa Indonesia bernama Ilona Ianovska. Gadis inilah yang berhasil meluluhkan hati seorang Rudy. Ilona juga memberi support dan semangat bahwa Rudy mampu mencapai visinya. Sehinggalah Rudy nekad membuat seminar yang banyak teman-teman PPInya tidak menyetujui, tapi Rudy yang yakin akan berhasil itupun berusaha sendiri. Sampai dia jatuh sakit di atas salju karena kedinginan dan menyebabkannya terserang TBC.

Maminya yang tau bahwa anak kesayangannya jatuh sakit, beliau pun meluncur ke Jerman. Dan disanalah beliau bertemu ilona. Pada dasarnya Rudy yang seorang muslim yang taat dan berwarganegara Indonesia dan Ilona yang dari Polandia membuatkan Mami Rudy tak setuju akan hubungan mereka. Jadilah mereka harus berpisah, karena maminya sudah menginginkan Rudy pulang dan menikah dengan Hasri Ainun.

Dan bersambunglah film “Rudy Habibie (Habibie Ainun 2)”. Dan akan diperkirakan ada sambungannya yaitu “Habibi Ainun 3”.


Minta maaf kalau itu terlalu panjang. Dan banyak kata-kata yang salah juga cerita yang tidak saya tuangkan ke dalam cerita di atas.

 

Senin, 06 Juni 2016

Kenapa Masih Malas di Bulan Ramadhan?

Setannya sama Allah sudah dibelenggu dan dipenjara di bulan suci Ramadhan ini.
Tapi kenapa ibadahnya masih malas-malasan ?
Yang disuruh bangun lebih awal untuk sahur males lah
Yang disuruh sholat subuh berjamaah di mushola alasan keluar dinginlah
Yang paginya sholat dhuha g dikerjakan mementingkan kerjaan lah
Yang disuruh lebih rajin baca Al Qur'an males banget bilang g ada waktu lah
Yang disuruh lebih rajin sedekah juga alasan pengeluaran pas puasa lebih gede lah
Yang sholat 5 waktunya diulur-ulur lah
Yang disuruh tarawih ngantuk lah
Yang diminta ngisi tadarusan di mushola g mau alasan pulang malam g berani lah
Apalagi kalau bikin alarm untuk sholat tahajud pasti lebih males kan. Alasannya enak tidur aja.
Padahal Allah di bulan Ramadhan ini offer pahala lho. Semua yg dikerjakan pahalanya berlipat-lipat ganda. Tapi masih juga banyak yang males. Kurang apalagi coba. Allah udah ngurung setan yang selalu ganggu kita berbuat jahat atau perbuatan yang Allah murkai.
Jadi, jangan jadikan alasan males itu karena bisikan setan ya. Setan g bisa ganggu kita selama bulan Ramadhan lho.

Kita harus bisa melawan rasa MALAS itu. Agar ibadah kita maksimal, penuh berkah, mendapat hidayah juga pahala yang telah Allah janjikan itu.
Ayo kita buat dan jadikan bulan yang suci sebagai kita mengumpulkan saham untuk akhirat kita kelak. Bersedekah, berpuasa, melakukan ibadah sunnah pastinya akan memberikan diri kita kesadaran atas limpahan rahmat juga kita mampu mensyukuri apa yang Allah kasih kepada kita.
Seaungguhnya Allah selalu memberi kita rizki. Mungkin bukan dalam bentuk uang yang melimpah ruah. Tetapi kesehatan lahir batin juga rizki dari Allah.

Ayo, kita tingkatkan keimanan kita di bulan penuh berkah ini. Semoga kita mendapat manfaat, syafaat juga keberkahan di bulan ini. Aamiin. ☺☺☺

Selasa, 31 Mei 2016

Surat Kecil Untuk Sahabat


Teruntuk Sahabat Kecilku


Saat kita masih ingusan sewaktu dulu. Kita bersama-sama jalani hari untuk bermain, tertawa, dan tidak mengenal apa itu masalah. Sehingga waktu menjawab atas kebersamaan kita hanyalah sementara. Kita waktu itu hanya bisa menangis apabila orang tua kita mengatakan 'nak, maafkan emak g bisa membuat kalian bersama' 'nak, maafkan ibu harus memisahkan kalian karena banyak hal yang orang tua ini uruskan'. Ya, begitulah singkat kata-kata mereka. Kita hanya mampu menangis menangis dan menangis. Hingga akhirnya kita berbeda jarak, ruang dan waktu kebersamaan. Aku yakin pada saat itu aku dan kamu menemukan yang baru. Teman baru, sekolah baru, dan suasana yang baru. Meski tak tertawa dan bermain bersama tapi kita mampu menikmatinya. Karena waktu itu kita hanya menangis pada saat itu saja bukan seterusnya.

Sahabat, hingga umur kita beranjak dewasa. Orang tua kita tidak lagi berhubungan sama halnya dengan kita. Apabila aku dengan kenekadanku untuk melanjutkan sekolah dikota. Walaupun pada saat itu orang tuaku hanya memiliki uang pas-pasan tetap kuputusakan melanjutkan pendidikan.

Hingga waktu jugalah mempertemukan kita di angkutan umum. Yang membawa kita pulang sekolah. Saat itu aku dengan seragam putih abu-abuku dan kamu dengan seragam putih biru. Kamu menyapaku terlebih dulu. Aku hanya mampu linglung pada saat itu. Bagaimana tidak. Selama 9tahun berpisah kamu mengenaliku dan aku yang sedikit pelupa **yang notabenenya kamu dulu memiliki pipi chubby sekarang sudah tidak lagi. Itu pertemuan kita yg terakhir sampai sekarang.

Hari ini, 31Mei 2016 di Kuala Lumpur. Saat menunggu jam pulang kerja. Aku yang sangat mengantuk, hingga aku terlena dalam tidur sekejapku. Dan saat itulah aku bermimpi tentangmu. Dimana aku yang ingin ke kampusmu menghadiri acara pengajian. Dan aku mengatakan ke sopir bis yg aku belum tau tempat itu. Sehingga pak sopir bis itu menurukanku tepat di depan kampus. Tidak disangka bahwa aku satu bis denganmu dan turun ditempat yang sama. Saat itu juga kamu yang menyapaku lebih dulu. Kamu mengatakan bahwa kamu melanjutkan perjuanganmu disini. Betapa kagetnya aku melihatmu smyang sekarang, Sahabat. Kamu dengan pakaian fashionmu dan begitu ayunya kamu memakai sepatu perempuan feminim, membuatku kagum denganmu. Sahabat kecilku tumbuh menjadi sosok yang dewasa dan ada peran pemimpin disana. itu semua hanya mimpi. Berharap suatu hari nanti kita bertemua dan tidak ada keangkuhan satu sama lain. Semoga sekarang kamu dalam lindungan Allah SWT. Dan sukses untuk perjuanganmu sekarang....


Berharap kamu membacanya dan media sosial mempertemukan kita dalam waktu dekat.

Dari Aku Yang Merindukanmu

Rahayu Nurcahyani.

Minggu, 15 Mei 2016

Aku Bukan Dulu

Aku sudah tidak lagi dibutuhkan. Okey....jangan berharap saat kamu ada masalah lari padaku. Mencariku bahkan dengan lantangnya kamu bercerita segala masalahmu.
Kamu yang membuangku, tak lagi butuh tentang diriku.
Aku pergi dan jangan cari aku.

Apa kamu tidak berfikir saat kamu menceritakan segalanya. Aku pun butuh cerita. Butuh ceritaku di dengar. Bahkan, disitu berharap ada suntikan semangat.

Tapi waktu yang ada HABIS dengan segala ceritamu.
Bukan aku mengungkit atau tidak menyukai segala ceritamu. Tapi pernahkah berfikir atau memberi kesempatan sedikit untukku menceritakan masalahku. TIDAK. Tidak pernah kamu tanya kabarku.

Okey..dulu tak mengapa. Tapi SEKARANG saat semua berganti dengan seindah warna pelangi. Kamu membuangku. Bahkan menyalahkanku. Perubahanku yang tiba-tiba membuatmu berfikir yang bermacam-macam di kepalamu, bukan? Padahal aku kecewa dan sangat kecewa.

Kenapa?  Karena saat pelangi itu datang kamu tidak pernah berkata jujur, sempat juga berbohong dan berkelit sana dan sini. Sampailah mataku sendiri menyaksikan kesemua kebohongan itu. Dan SEKARANG ku tekadkan untuk mundur, menjauh, dan pergi darimu. Mungkin posisiku sudah tergantikan oleh pelangi indah itu.

Oh...sangat salah jika kamu berfikir kalau yang aku lakukan itu sebuah kecemburuan. Sama sekali tidak. Dan itu salah besar. Itu aku lakukan karena aku merasakan lelah untuk menjadi seperti DULU sebelum pelangi datang.

Sekarang aku bukan yang DULU. Aku tidak lagi ingin mengenalmu lagi. Kalau bisa membencimu karena kebohongan itu.

Tidak Lagi Bermakna

Bagaikan sebongkah es batu
Diperlukan saat panas dan dahaga
Dibiarkan atau bahkan dibuang begitu saja saat dingin.