Laman

Senin, 15 Mei 2017

Mata Itu...

Begitu lama sepasang mata itu mengamatiku. Entah apa yang dilihatnya. Kalau memamg itu caramu mencari ketulusanku. Apa iya kamu menemukannya. Dan apa iya kamu berusaha menyakinkan hatimu untuk memilihku.
Jawabannya, entahlah. Singkat namun masih menyisakan tanya.
Dan saat sepasang mata itu kembali ku tatap justru malah semakin menatap bola mataku lebih dalam. Sungguh ini pertama kalinya aku mampu ditatap olehnya sedemikian dalam, kalau memang kamu sudah tau semua. Lantas kenapa kita masih saling diam.
Mungkin masih belum tau kepada siapa rasa itu disandarkan. Artinya masih ada sebuah keraguan menyelinap di hatimu. Sama seperti hatiku. Lagi-lagi untuk kesekian kalinya pasrah sama Sang Pemilik Hati.

Senin, 21 November 2016

Masih Sama

Hari ini seperti hari-hari sebelumnya. Kenapa begitu? Karena rutinitas yang dikerjakan masih sama. Apa sajakah itu? Bangun tidur bersiap-siap untuk berangkat jadi kuli. Kuli di pabrik di negara orang. Walau kelihatan di luar negeri masih sama seperti yang lain bahwasanya masih jadi kuli.

Jangan mikir orang di LN (read:Luar Negeri) itu banyak uangnya ya. Itu salah besar. Kenapa begitu? Karena kita-kita ini hanya menjadi pekerja biasa yang sehari-hari nyari sesuap nasi sama seperti yang di negeri sendiri. Cuma beda tempat aja. Yang bedanya jauh sich ya di banding yang di LN.
Masih nanya, kenapa? Karena di LN bukan negeri sendiri jadi ya harus punya dokumen kemana-mana ada aja yang nanya ada paspor enggak, dokumen izin kamu tinggal di sini mana. Belum lagi kita hanya di kasih copy-annya aja, itupun banyak yang enggak percaya lho. Nah, kalau di negeri sendiri hanya KTP aja kan bahkan gak di bawa sekalipun gak ditanya.

Kembali ke rutinitasku sebagai "kuli". Hanya sebagai kuli yang setiap hari dituntut untuk kerja 12 jam dengan istirahat kira-kira 2jam saja sudah sama sholat.
Di tempat kerja juga angkat-angkat berat. Paling berat sekitar kurang lebih 50kg-an. Gak peduli aku ini perempuan atau laki-laki. Tapi, kebanyakan kerja di LN perempuan kan ya.
Hari Senin, ini aja contohnya. Dari pagi sampai sore menyelesaikan kerja. Sambil disuruh-suruh sama atasan gitu lah. Dari hal sepele sampai yang bertele-tele. Yang penting harus berusaha ikhlas, begitu kata sahabatku. Sebagai kuli yang 12 jam harus menurut perintah atasan. Ketika 12 jam sudah terlewati sudah lega rasanya. Pulang ke rumah kontrakan masak seadanya, makan ala kadarnya anak rantau gitu, sholat, dan secepatnya rehat.

Mau tidur ingat lagi besuk kerja begitu seterusnya. Kalau hampir setiap hari ngeluh pasti berat jalaninnya, kubawa enjoy ajalah. Toh, sebulan sekali gajian. Ingat gaji jadi semangat, karena harus ini dan itu. Yang harus disisihkan sebagai tabungan untuk masa depan.

Ya apapun itu keluhan hari ini, Senin. Cukup segitu aja. Takut besuk berat buat bangun untuk berangkat nguli.
Tetap berayukur dan bersabar dalam zona ini. Dan akan kuhitung detik-detik aku keluar dari zona ini. Semoga segalanya Allah perlancar dan dimudahkan. Aamiin

#ODOP
#Curhat

Ketika Malam

Malam yang sunyi
Melelapkan begitu banyak mata
Mengistirahatkan tubuh yang lelah
Melenakan nyamannya tidur
Mebawanya ke alam mimpi

Malam....
Yang begitu syahdu ketika ini
Membukakan matanya dari lena
Menggerakan anggota tubuh untuk bangun
Mengetuk hati untuk segera beranjak dari  pembaringan

Dengan langkahnya yang gontai
Dia membawa diri ke tempat pancuran air
Mengambil air sedikit demi sedikit
Untuknya membersihkan diri dari hadast kecil
Begitu sebagian tubuhnya tersiram air
Segera dia membaca niat.

Dalam hatinya dia ingin mengadu segalanya
Dan ini saat yang tepat
Begitu memasuki ruangannya dia segera memakai penutup aurat
Dan berniat sholat malam

Lama dia bersujud dalam sujud terakhirnya
Terdetik dalam hati inikah yang terakhir?
'Semoga tidak' raungnya dalam hati
Dia masih banyak dosa dan ingin memperbaiki diri
Mencari bekal untuk dibawa menghadapNYA
Bertaubat dia dalam setiap sujud malamnya.

Keheningan malam ketika ini
Dipecahkan oleh tangisan yang begitu sedu
Memohon ampun atas segala dosa yang dibuat
Dalam lantunan doa dia ingin istiqomah
Ingin segala yang dia lakukan dalam keridhoan Yang Maha Kuasa
Hanya kepada Penciptanya saja dia mengadu
Panjang harapannya untuk bisa bersujud dan ingin dalam pelukan Penciptanya.

#ODOP
#PUISI

Jumat, 18 November 2016

Tentangku

Namaku Rahayu Nurcahyani. Banyak nama panggilan malah kadang bingung juga. Anak nomer 2 dari 3 saudara dan perempuan sendiri. Lahir di Madiun, Jawa Timur tanggal 28 Desember 1993 sekarang terhitung masih umur 22 tahun.
Tinggal di Magetan, Jawa Timur bersama ibu dan adik saja, ayah sudah meninggal sejak saya masih umur 7 tahun.

Saat ini saya kuliah di Universitas Terbuka cabang Batam termasuk di kelompok belajar jarak jauh di Kuala Lumpur, Malaysia. Menjadi mahasiswa dan TKI adalah sebuah tanggung jawab yang saya emban saat ini.

Di Malaysia sudah 4 tahun dan memasuki semester 5 jurusan Akuntansi saat ini. Karena dari awal saya di sini tidak langsung menjadi mahasiswa. Karena ada teman yang mengenalkan UT pada saya setelah 2 tahun kerja.

Memasuki tahun ke 5 di Malaysia dan akan kembali ke tanah air dalam 7 bulan lagi. Banyak pelajaran dan pengalaman hidup selama di sini. Yang tentunya tidak pernah saya dapatkan semasa di bangku sekolah.

Dan sekarang berharap untuk secepatnya pulang dan mencari pekerjaan di negeri sendiri. Semoga yang Maha Kaya membukakan pintu rezeki untuk saya di tanah air. Aamiin.
Sudah segitu aja ya perkenalannya. Lebih lanjut bisa PM (Personal Message) ke saya ya.

#ODOP
#TantanganODOP

Bubur

Pagi ini dengan mata ngantuk dan perut keroncongan. Kugagahkan juga untuk memasak. Sesampai dirumah saya menuju kulkas dan mengambil sayur untuk dimasak. Betapa apesnya hari ini. Bumbu halus yang menjadi stock habis.

Dengan langkah lemah kugagahkan juga untuk mengupas bawang merah dan bawang putih untuk setelahnya dihaluskan. Agar bumbu halus yang menjadi stock dan instan ini tahan lama, maka saya masak terlebih dahulu sebelum disimpan.

Mata yang sudah mengantuk hebat. Membuat saya ingin cepat menyelesaikan pekerjaan ini. Biarlah lapar ini kubawa tidur. Setelah bumbu bawang sudah masak. Langsung kumatikan kompor dan membiarkannya dingin di wajan. Nantilah kalau saya sudah bangun disimpan di toples, begitu batinku.

Setelah 6 jam kemudian saya bangun dan menunaikan sholat dzuhur. Selesai kupanjatkan do'a kepada Sang Kholiq, saya berniat ke dapur untuk menyimpan bumbu tersebut.

Ternyata di bagian pinggir sudah ada yang menyendoknya. Kelihatan banyak juga si pengambil ini, batinku dalam hati.
Cepat kumasukkan ke dalam toples untuk disimpan.

Beberapa menit kemudian Resa memanggilku. " Yu itu bawang halus di masak ya?" "Iya, kenapa emangnya?"
"Tadi Kiki ambil, dikira bubur katanya."
"Hah....pantesan kayak ada yang nyendok tadi. Emang dia gak tau apa kalau ini bawang. Masih bau juga kan nih." Ku sodorkan sedikit ke hidung Resa. "Iya, tapi si Kikikan lagi flu berat, yu. Indra penciumannya terganggu kan. Tadi dia sempat marah juga sih. Dan bilang tumben ada yang perhatian saat dia sakit ada yang bikin bubur gitu."
"Kasihannya lah dia kan. Nanti ku tebuslah buat bubur beneran buat dia. Sekarang masih tidur kan dia?"
"Iya..abis minum obat tadi terus rehat lagi." -End-

#ODOP
#Latepost

Selasa, 15 November 2016

Lebih Mepet Lebih Cepat?

Jam dinding sudah menuunjukkan pukul 5.50 pagi. Membuat saya tergesa-gesa untuk berangkat kerja. Sedangkan mata baru saja terbuka, dikarenakan tidur yang lambat membuat bangun lambat. Dengan pantas ku capai handuk dan masuk kamar mandi. Mandi kilat ceritanya. Setelahnya langsung menunaikan sholat subuh dan menyetrika kerudung. Dengan kilat tentunya. Waktu mepet seperti ini tidak membuatku kepikiran untuk bersarapan.

Karena sadar kemacetan ibukota pada saat jam kerja seperti sekarang ini. Dengan sigap kuraih kunci motor kesayangan dan cepat gas ke tempat tujuan. Dalam perjalanan berharap  macet hari ini tidak parah. Sehingga membuatku lebih cepat sampai. Kalau lambat habislah pasti boss marah.

Dan hari masih rezekiku. Jalanan ibukota lancar dan sedikit lengang. Membuatku sampai dan boss belum datang. Syukurlah, batin hatiku.

Segera kunyalakan komputer dan merenung. Kenapa setiap kali kurang sepuluh menit sebelum jam 6. Saya lebih cepet bersiap dibandingkan saya yang bangun jam 5 dan begitu santainya saya bersiap. Tapi saya tidak menyukai kemepetan ini! Membuatku gugup dan ada yang lupa untuk dilakukan. Hal sepele sich. Tapi berakibat fatal. Sarapan, kalau tidak dilakukan sekali akan membuat saya merasa lemas terasa tidak punya tenaga.

Selambat apa saya tidur sebisa mungkin untuk bangun lebih awal. Agar persiapan tidak mepet dan saya bisa sarapan. Sekedar minum teh dan makan roti sudah cukuplah.

Senin, 14 November 2016

Mencoba Untuk Bangkit

Sudah beberapa minggu gak ikut post tulisan di ODOP dengan alasan merasa gak sanggup setiap hari nulis. Apalagi di tambah dengan kerjaan yang semakin banyak.
Dan hari ini saya bertekad bangkitkan semangat yang sempat redup. Dengan bismillah dan berniat tulus melanjutkan minat menulis demi keabadian kelak.
Harapan terbesar ya semoga ini juga gak cuma omong kosongku saja. Tetap kembali istiqomah dan melanjutkan apa yang sudah di pilih ini.
Maafkan saya admin ODOP atas ketidak konsistenan saya dalam bergabung dengan ODOP. Insya Allah saya kembali dengan semangat yang baru.
Semoga juga tetap ada di sekeliling orang-orang semangat dan memotivasi juga sumber inspirasi saya.

#ODOP

Kuala Lumpur, 14 November 2016

Rabu, 19 Oktober 2016

Tak Menggilainya

Menjadi seorang karyawan biasa itu sudah cukup melelahkan segala pikiran dan kemampuan. Kenapa begitu? Karena sebagai karyawan saja segala pekerjaan atasan (leader) bisa dikerjakan, ini mau di naikkan pangkat. Itu akan semakin menyiksa.

Sebagai perantau di negeri orang. Untuk menduduki sebagai karyawan teladan pun harus di tuntut memenuhi kedatangan setiap hari dan tepat waktu. Ah, sudahlah kalau karyawan terbaik itu kembali ke diri sendiri pakai penilaian sendiri aja. Tapi bukan untuk menyombongkan dan membanggakan diri. Ya, sebagai wujud penghargaan untuk menghargai jiwa dan raga yang sudah lelah selama berjuang.

Yang pasti karyawan teladan itu mengetahui kewajibannya. Pangkat sebagai leader saja hanya akan menambah kewajiban. Leader itu pengayom bukan penyuruh layaknya boss. Dan pangkat leader sudah banyak disalah gunakan. Ini berdasarkan di lapangan kerja yang kenyataannya leader hanya penyuruh karyawan saja. Ketika karyawan salah pasti akan disalahkan  tanpa menunjukkan kesalahan itu berupa apa.
Sungguh ironis bukan. Jangan menggilai pangkat hanya untuk naik gaji saja. Tapi lebi sadar akan kewajiban yang mesti di pikul.

#OneDayOnePost

Kuala Lumpur, 19 Oktober 2016

Selasa, 18 Oktober 2016

Payung

Saat musim penghujan seperti sekarang ini dianjurkan untuk membawa payung. Agar terhindar dari hujan walau kenyataannya masih pakai payung tetep basah kuyup. Mengingat pepatah "sedia payung sebelum hujan" adalah alarm otomatis dalam pikiran seseorang.

Tak banyak juga lho yang masih pada gengsi bawa payung pada musim hujan walau hari itu gak hujan. Alasannya pun macem-macem. Dari yang ribet dan rempong atau saudara deret-deretnya itu. Bahkan ada juga yang kasih alasan bawa payung. Hahaha...nanti disangkain topeng monyet pula. (Yang ini saya tepuk jidat dah).

Lalu, apa gak pada sayang kesehatan. Kesehatan sendiri juga sangat mahal harganya. Apalagi manusia zaman sekarang ini lebih rentan kena penyakit karena air hujan dan virus. Terlebih pada mereka yang antibody atau kekebalan tubuhnya agak lemah, pastinya lebih cepat terserang virus.

Jadi, kemanapun perginya usahakan bawa tas yang bisa muat di isi payung lipat yang simple gitu. Biar terhindar dari hujan dan penyakit. Ingat banyak orang-orang di sekitar yang menyayangi anda, anda sendiri juga jangan membuat susah orang terkasih anda. Jangan lupa bawa payung kemanapun perjalanannya. Dan tetap hati-hati di jalan.


#OneDayOnePost


Kuala Lumpur, 18 Oktober 2016