Laman

Kamis, 06 Oktober 2016

Bas Biru Negeri Jiran

Lonceng bel berbunyi. Tanda 12jam yang lalu sudah terlewati dengan target produksi yang diinginkan si majikan. Berduyun-duyunlah mereka yang berseragam keluar dari tempat mencari sesuap nasi. Ada yang berlari tergopoh menuju transport yang sudah disediakan demi tempat duduk selama diperjalanan. Ada juga yang berjalan santai karena masih harus menunggu bas biru.

Matahari pagi semakin bersinar terang tanda akan menuju ketengah langit. Tidak ada tanda-tanda bas biru berstiker kuning datang ke tempat parkir bas. Ani, Izah dan beberapa orang beseragam sama semakin cemas, karena sudah terlambat sekali untuk pulang. Bahkan bas yang lain sudah tiada di tempat. Security yang bertugas cek kawasan sudahpun ke hulu ke hilir mencurigai mereka.
20 menit kemudian. Datanglah yang mereka tunggu-tunggu. Dengan langkah tergopoh Izah yang pertama naik. Dan apa yang diharap tak sesuai kenyataan. Sopir bas memakinya.
"Kau budak mana,hah?" Teriak sopir bas biru.
"S.s.saya budak pak cik lah." Kata Izah
"Bukannn...saya tau lah budak saya macam mana." Bentak si sopir lagi.
Sedang yang dibelakang pada berbisik satu sama lain.
Lalu dengan keberanian yang cukup, Ani menyela. "Kami budak pak cik Abdul (salah satu sopir bas juga). Dia kata ini hari tak boleh datang ambik kita dan suruh kita naik bas pak cik." katanya dengan logat melayu.
"Haaa...saya tak nak hantar kau orang semua. Kau orang turun sekarang!" Jawabnya dengan wajah bengis.
"Heh...pak cik cakap, turun-turunlah. Kita pun ini dah lambat tau." Bentak penumpang bas biru.
Izah yang tak biasa dibentak sebegitupun badannya gemetar. Lalu Ani mengajaknya turun dari bas. Terdengar samar-samar penumpang yang baik pun menyeringai,"Heh...kau manusia ke bukan, cakap dengan orang pun macam itu sungguh. Sama-sama dah lambat jangan buat panas. Kau tak tengok ke budak itu takut." Beberapa saat kemudian bas berlalu dengan kelajuan yang cukup membuat jantung berdetak tak biasa, tanda si sopir memang sangat marah.

Setelah Izah, Ani dan yang lain tak dapat naik bas biru. Mereka memutuskan untuk jalan kaki saja sampai halte bas. Dengan nafas yang memburu mereka masih harus menunggu bas umum. Sedang hari semakin panas dengan matahari sudah mulai menuju ke tengah. Dengan begitu jam istirahat juga terkurangi dengan harus menunggu bas lagi.

Pengalaman yang seperti ini mungkin tidak akan terulang kembali. Di maki sopir bas biru mungkin hanya didapat jika mengalami atmosfer di negeri jiran seperti sekarang ini.

Apapun yang terjadi tetap harus dihadapi, karena itu sudah menjadi sebagian dari kehidupan. Anggap saja semua itu ujian yang mesti dikerjakan dan harus bisa lulus. Dan hasilnya akan dirasakan manis jika sudah keluar nilai-nilai hikmah didalamnya.

#OneDayOnePost
Kuala Lumpur, 6 Oktober 2016

Tidak ada komentar: